Permainan Tradisional Bajawa
Atraksi Wisata Wela Maka Permainan Tradisional di Kampung Beiposo Ngada
Warga Kampung Beiposo di Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada kembali menggelar permainan tradisional Wela Maka atau permainan gasing.
Penulis: Oris Goti | Editor: Egy Moa
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Oris Goti
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA-Wela Maka atau lempar gasing merupakan permainan tradisional Orang Bajawa, Kabupaten Ngada di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diadakan setiap bulan Januari atau Februari menjelang pesta adat Reba atau pesta syukur panen setiap tahun.
Permainan warisan leluhur ini biasanya dilombakan di tengah kampung pada arena yang sudah dipagar menggunakan bambu dengan luas berkisar 10 x 20 meter persegi.
Di Kampung Beiposo, Kecamatan Bajawa misalnya, Wela Maka rutin diadakan setiap tahun. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini Wela Maka di Kampung Bei Poso dikemas dalam bentuk festival yang disebut dengan Festival Wela Maka. Tujuannya, agar permainan tradisional ini semakin dikenal luas oleh masyarakat terutama wisatawan domestik maupun mancanegara.
Bupati Ngada, Andreas Paru, Wakil Bupati, Raymundus Bena dan Ketua DPRD Ngada, Berny Dhey turut hadir dalam festival tersebut dan sejumlah tokoh lainnya.
Baca juga: Angin Puting Beliung Merusak 20 Unit Rumah di Desa Wue Kabupaten Ngada
Maka atau gasing terbuat dari kayu. Kayu yang dipilih pun tidak sembarangan. Harus keras dan tidak mudah pecah. Kayu dikikis menggunakan parang atau sejenisnya hingga menyerupai piramida terbalik. Bagian runcingnya berfungsi sebagai poros berputarnya maka.
Sepintas permainan Wela Maka memang terlihat mudah namun sebenarnya permainan ini membutuhkan ketangkasan, terutama saat melempar maka. Maka dililit menggunakan tali, yang salah satu ujungnya telah diikat pada jari tengah. Tujuannya, pemain bisa menggenggam maka dengan lebih erat.
Setelah itu pemain mangambil ancang - ancang melempar maka. Momen ini sangat penting karena menentukan daya lempar. Maka dilempar ke tanah dalam arena pertandingan, tidak boleh di luar arena perlombaan.
Perlombaan Wela Maka bisa melibatkan beberapa kelompok dengan jumlah pemain setiap kelompok beranggotakan 6 hingga 10 orang. Terdapat tahapan permainan Wela Maka antara Raju, Esa, Leke dan Riwe. Pada prinsipnya, Wela Maka mengadu putaran dan kekuatan gasing.
Baca juga: Penasihat Menhukham RI : Tenun Ikat Ngada Telah Terdaftar di Kemenkumham dan Diakui WIPO
Peserta lomba umumnya adalah undangan dari kampung - kampung tetangga. Baik pemain maupun penonton yang hadir diwajibkan mengenakan kain adat.
Bupati Andreas Paru kepada awak media menjelaskan, Wela Maka merupakan warisan leluhur yang mesti dijaga dan dilanjutkan oleh generasi muda Ngada. "Tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan atau menghidupkan tradisi ini," ujar Bupati Andreas.
Bupati Andreas menceritakan, dirinya sewaktu kecil juga suka bermain Wela Maka. Menurutnya, dengan geliat pariwisata di Ngada yang terus menunjukan trend positif maka Wela Maka tepat dikemas dalam festival. Hal itu bisa menjadi sajian baru pengalaman berwisata bagi para wisatawan.
Dia juga mengapresiasi antusiasme peserta lomba dan komunitas masyarakat Kampung Beiposo yang telah menyelenggarakan Festival Wela Maka tersebut. Dia mendorong festival tersebut kelak menjadi agenda rutin yang dikemas lebih beragam dan meriah.
Baca juga: Jurnalis Ngada Tempuh 382 Kilo Meter Demi Korban Erupsi Gunung Lewotobi
Atraksi Wela Maka di Ngada
Permainan tradisional Wela Maka
Permainan tradisional Orang Bajawa
Permainan lempar gasing
TribunFlores.com hari ini
| Injil Katolik Sabtu 20 Januari 2024 Lengkap Mazmur Tanggapan |
|
|---|
| Polres Malaka Ciduk Pengeroyokan Pemuda Desa Botin Maemina |
|
|---|
| Polres Sabu Raijua Zona Merah Pelayanan Publik, Polres Nagekeo Kuning |
|
|---|
| Bacaan-bacaan Liturgi Sabtu 20 Januari 2024 Hari Biasa Pekan II |
|
|---|
| Keluarga Tak Jemput, Polisi di Manggarai Tmur Antar Jenazah Veronika ke Bangka Arus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/FESTIVAL-WELA-MAKA.jpg)