Berita NTT

Dinas Pertanian se-NTT Inventarisasi Sumber Pangan, Antisipasi Krisis Pangan & Lonjakan Harga

Dinas Pertanian se-NTT menginventarisasi sumber pangan selain beras untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen yang mengakibatkan krisis pangan.

Editor: Cristin Adal
TRIBUNFLORES.COM/ ARNOLD WELIANTO
PANEN JAGUNG - Kelompok Tani Wairkung 1 di Desa Nangahale Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka. Panen perdana jagung dari program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG- Dinas Pertanian se- Nusa Tenggara Timur segera menginventarisasi sumber pangan selain beras untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen yang mengakibatkan krisis pangan dan naiknya harga beras.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederich Koli, S.TP saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Rabu 28 Februari 2024 mengatakan, meminta seluruh Kepala Dinas Pertanian di Kabupaten menginventarisir sumber pangan di wilayah masing-masing.

Antisipasi Gagal Panen

Lecky menyampaikan, tujuan inventarisir itu sebagai langkah antisipasi. Melalui cara tersebut para petani bisa beralih komoditas, tidak hanya beras tetapi juga jagung, pisang sorgum dan lainnya.

Baca juga: Harga Beras Premium Meroket, Masyarakat Kota Kupang Mulai Menjerit

 

 

"Kita meminta Kepala Dinas Kabupaten untuk memonitor dan menginventarisasi ketersediaan sumber pangan lain seperti ubi-ubian, pisang, sukun, sorgum dan lainnya untuk diletakkan di masing-masing wilayah," ungkapnya.

Dari proses inventarisasi itu, kata Lecky, akan menjadi bahan yang dilaporkan kepada bupati untuk mengambil kebijakan lainnya terkait dengan ketersediaan pangan dan penyelamatan dari ancaman kekurangan pangan akibat gagal panen.

Ketersediaan Pupuk

Dikatakan Lecky, tantangan lain dari gagal panen yaitu soal pupuk. Yang mana pupuk sudah tersedia, namun di beberpa tempat para petani tidak bisa ambil karena masalah aplikasi yang disiapkan oleh kementerian pertanian mengalami gangguan.

Baca juga: Disparekraf NTT Dorong Pelaku UMK Daftar Merek Dagang, 2024 Target 100 UMK

"Ini sangat berisiko, kita berhadapan dengan kondisi suplay sarana produksi terbatas, gangguan hama penyakit dan kita selalu berupaya untuk melakukan pengendalian secara serentak tetapi sumber daya kita juga terbatas," ujarnya.

Lecky menyebut, dari kuota yang diterima, untuk pupuk urea yang terpenuhi hanya 53 persen, sedangkan pupuk npk yang menjadi kebutuhan petani hanya dialokasikan 30 persen. Sehingga petani yang biasanya dapat 6 karung hanya dapat 90 kilogram.

"Kita juga gagal tanam bagi petani-petani yang sudah menanam padi pada Oktober dan Desember," katanya.

Kebijakan

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved