Rabu, 13 Mei 2026

Musik Liturgi Katolik

Asal-Usul Musik Gregorian, Musik yang Dipakai dalam Liturgi Katolik

Keberadaan musik Gregorian telah ada selama ratusan tahun silam dan mengalami proses perkembangan yang sangat panjang.

Tayang:
Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Asal-Usul Musik Gregorian, Musik yang Dipakai dalam Liturgi Katolik
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Romo Gabriel Harim,Pr pimpin Misa Syukur HUT RI Ke-78 di Manggarai yang berlangsung di Gereja Katedral Ruteng. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Hingga kini musik Gregorian yang memakai organum (alat musik) masih menjadi pilhan utama Gereja Katolik dalam melaksanakan peribadatannya.

Bahkan musik liturgi tak akan pernah tergantikan dengan genre musik yang lain seperti musik pop, rock atau pun regea.

Keberadaan musik Gregorian telah ada selama ratusan tahun silam dan mengalami proses perkembangan yang sangat panjang.

Musik klasik atau musik Gregorian ditemukan oleh Paus Gregorius Agung.

Baca juga: Mengapa Lagu Pop Rohani Bukan Lagu Liturgi

 

Beliaulah yang menjadi penemu notasi gregorian tahun 590. Notasi Gregorian berupa not balok 4 baris (balok not). Namun waktu itu belum ada hitungnya (hitungan berdasarkan perasaan penyanyi).

Paus Gregorius Agung diketahui selama hidupnya telah mencatat banyak sekali lagu-lagu dengan notasi gregorian. Harus diketahui juga bahwa sebelum tahun 590 musik mengalami kegelapan tidak ada peninggalan tertulis yang dapat dibaca.

Pada masa itu, sifat lagu masih sebagai lagu tunggal atau monofoni.

Saat ini Notasi gregorian biasanya digunakan sebagai notasi untuk memainkan lagu gereja Kidung Gregorian adalah pusat tradisi kidung Barat, semacam kidung liturgis monofonik dari Kekristenan Barat yang mengiringi perayaan misa dan ibadat-ibadat ritual lainnya.

Melansir berbagai sumber, kumpulan besar kidung ini adalah musik tertua yang dikenal karena merupakan kumpulan kidung pertama yang diberi notasi pada abad ke-10.

Secara umum, kidung-kidung Gregorian dipelajari melalui metode viva voce, yakni dengan mengulangi contoh secara lisan, yang memerlukan pengalaman bertahun-tahun lamanya di Schola Cantorum.

Kidung Gregorian bersumber dari kehidupan monastik, di mana menyanyikan 'Ibadat Suci' sembilan kali sehari pada waktu-waktu tertentu dijumjung tinggi seturut Peraturan Santo Benediktus.

Melagukan ayat-ayat mazmur mendominasi sebagian besar dari rutinitas hidup dalam komunitas monastik, sementara sebuah kelompok kecil dan para solois menyanyikan kidung-kidung.

Dalam sejarahnya yang panjang, kidung Gregorian telah mengalami banyak perubahan dan perbaikan sedikit demi sedikit.

Kidung Gregorian terutama digubah, dikodifikasi, dan diberi notasi di wilayah-wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah yang dikuasai Bangsa Frank pada abad ke-9 dan ke-10, dengan penambahan-penambahan dan penyuntingan-penyuntingan di kemudian hari, tetapi naskah-naskah dan banyak dari melodimelodinya jauh berasal dari beberapa abad sebelumnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved