Rabu, 15 April 2026

Berita Lembata

Nimo Tafa Institute Bedah Buku "1965",  Novel yang Melihat Genosida dari Pinggir

Nimo Tafa Institute, sebuah lembaga riset dan riset di Lembata, menggelar acara bedah buku "1965, Sebuah Novel" di Aula Perpustakaan Daerah Goris Kera

Tayang:
Editor: Ricko Wawo
zoom-inlihat foto Nimo Tafa Institute Bedah Buku "1965",  Novel yang Melihat Genosida dari Pinggir
TRIBUNFLORES.COM/HO-Nimo Tafa Institute
Nimo Tafa Institute, sebuah lembaga riset dan riset di Lembata, menggelar acara bedah buku "1965, Sebuah Novel" di Aula Perpustakaan Daerah Goris Keraf, Lewoleba, Lembata, 23 Juli 2024. 

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-Nimo Tafa Institute, sebuah lembaga studi dan riset di Lembata, menggelar acara bedah buku "1965, Sebuah Novel" di Aula Perpustakaan Daerah Goris Keraf, Lewoleba, Lembata, akhir pekan lalu, 23 Juli 2024. 

Bedah novel tersebut menghadirkan penulis novel "1965", Kopong Bunga Lamawuran.

Dua narasumber yang membahas buku tersebut adalah Eman Krova (Peneliti Nimo Tafa Institute) dan Alexander Taum (Jurnalis Media Indonesia). 

Eman Krova mengapresiasi novel tersebut, karena mampu menghadirkan kembali situasi sosial, budaya, maupun politik yang terjadi pada masa lalu. 

Selain itu, novel ini pun mengajak pembaca untuk lebih berani dan kritis dalam melihat narasi-narasi sejarah. 

Baca juga: Piter Pulang di Kelas Demokrasi Nimo Tafa Institute: Pembangunan Belum Berorientasi Lingkungan

"Saya ingat Pram (Pramoedya Ananta Toer). Menurut Pram, sebuah karya sastra yang baik itu mampu memberikan keberanian, nilai-nilai baru, sebuah pandangnya baru, menghadirkan martabat kemanusiaan, juga menghadirkan peran seseorang dalam masyarakat. Aliran Pram adalah Realisme Sosial. Menurut saya, penulis novel "1965" berada dalam tarikan-tarikan aliran tersebut," kata Eman. 

Mengenai isi buku, lanjutnya, dijelaskan bahwa pada waktu menjelang tragedi pembunuhan massal, ada tiga organisasi kemasyarakatan yang berperan besar di Pulau Adonara, yakni Serikat Bapa Tani, Serikat Santo Yoseph, dan Kumpulan. 

"Tapi yang paling ekstrim, yang paling mendekati nilai-nilai Marx, yaitu Kumpulan. Karena ada dua hal penting yang diajarkan dalam Kumpulan, yaitu kemiskinan dan semua manusia itu setara. Imbas dari doktrin ini adalah perlawanan terhadap kaum bangsawan," paparnya. 

Melalui tokoh-tokoh yang diciptakan penulis, imbuhnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik. 

Penulis menghadirkan para tokoh tersebut untuk mengkritik situasi sosial yang terjadi, ketidakadilan yang dialami, dan juga upaya-upaya untuk keluar dari situasi kemiskinan dan ketertindasan. 

Novel ini pun mencoba mengkritik nilai-nilai kapitalisme melalui tokoh-tokohnya. 

"Disadari atau tidak, tetapi memang novel ini sangat marxis. Bayangkan, bumbu-bumbu pengantar pun kritik-kritik kapitalisnya kuat," tegasnya. 

Baca juga: Peserta di Lembata Antusias Ikut Kelas Demokrasi Nimo Tafa Institute

Eman Krova memberikan sebuah penegasan mengenai kematian yang dialami oleh para tokoh dalam novel. Menurutnya, mereka tidak terbukti sebagai orang-orang Komunis. 

"Sampai akhir novel ini, orang-orang yang terbunuh itu tidak terbukti sebagai anggota Komunis. Betul, bahwa mereka dibunuh karena isu Komunis. Tapi sampai akhir cerita, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka adalah Komunis. Karena itu, novel ini memberikan keberanian kepada kita untuk melihat sejarah dari pinggir, sejarah dari pihak korban, tidak meluluh melihat dari sisi narasi-narasi besar yang diciptakan penguasa," tegasnya. 

Sementara itu, Alexander Taum, melihat novel dari sisi banyaknya korban yang terbunuh dalam tragedi tersebut. Menurut beberapa referensi yang diperolehnya, tercatat sekitar tiga juta orang Indonesia yang terbunuh dalam tragedi tersebut. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved