Opini Unika Santu Paulus Ruteng
Berdebat, Tidak Sekadar Berbicara
“Kan tinggal omong, susah apa?” “Bicara itu mudah, sulitnya di mana?” Itulah perkataan yang sering kita dengar dari orang lain
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Dosen-Berno-Unika-Ruteng.jpg)
Bernardus Tube Beding
Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng
TRIBUNFLORES-RUTENG-“Kan tinggal omong, susah apa?” “Bicara itu mudah, sulitnya di mana?” Itulah perkataan yang sering kita dengar dari orang lain, bahkan diucapkan oleh kita sendiri. Tentu, perkataan demikian tidak berlaku bagi orang yang tidak terbiasa dengan berbicara, apalagi berargumen di ruang publik. Orang demikian akan bersekukuh mengatakan, “Berbicara itu susah dan sulit”.
Saya ingin berbagi pandangan sekadarnya saja bahwa berdebat sebagai salah satu model berbicara di ruang publik, dalam konteks apa pun bukan soal mudah atau sulit. Saya lebih fokus pada seseorang dapat mempertahankan argumen-argumennya saat berdebat dengan orang atau kelompok lain sebagai mitra tutur, maupun lawan tutur, tidak sekadar berbicara. Tidak sedikit orang yang banyak berbicara sampai bertele-tele, tetapi isi argumennya hanya sepenggal kalimat.
Debat atau berdebat sering memberi kesan negatif kepada siapa yang mendengarnya. Ada orang berpikir berdebat hanyalah sekadar menyatakan prasangka-prasangka dalam suatu bentuk baru (Weston, 2007). Tidak sedikit orang berpandangan bahwa debat itu cerminan sikap ‘keras kepala’, bahkan adanya sikap memaksa pendapat kepada lawan debat tanpa meberi alasan logis. Debat semacam itu masuk dalam model “pokrol bambu” atau debat kampungan, akibat sikap kurang senang dan kesal terhadap cara berbicara yang tidak argumentatif.
Debat merupakan komunikasi lisan, dinyatakan dengan bahasa yang mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berdebat mengajukan argumen, memberikan alasan dengan cara tertentu, agar pihak lawan berdebat menjadi yakin dan berpihak kepadanya (Dipodjojo, 1982:47). Artinya, berdebat bukan membuat pihak lawan merasa tidak nyaman dan kapok. Esensi debat sesungguhnya adalah mempertahankan pengetahuan dan argumen sambil memperkaya pandangan dari lawan debat. Lomba debat yang ”memaksa” peserta mengundi posisi pro dan kontra membuat debat berubah menjadi upaya saling menundukkan. Tersesat (Alissa Wahid, 2023). Keberadaan peserta di posisi pro maupun kontra sesungguhnya bertujuan untuk saling melengkapi sehingga tema atau mosi yang diperdebatkan dipandang secara utuh dan menyeluruh.
Baca juga: Renungan Katolik Senin 28 April 2025, Iman Bukan Hanya Tentang Pengetahuan
Berdebat memerlukan keterampilan berbahasa lisan, sehingga tidak sekadar berbicara. Berdabat berarti memilih dan mengatur argumen, serta kecerdasan menarik simpulan dari kelemahan pihak lawan berdebat. Keterampilan dan kecerdasan demikian tidak datang dengan sendirinya, bahkan tidak dimiliki setiap orang. Seseorang yang memiliki keterampilan berargumentasi butuh latihan yang tekun dengan bimbingan yang teratur. Tidak berlebihan bahwa keterampilan berbicara dimulai dengan latihan dari keluarga dengan bimbingan orang tua, lalu dimatangkan di sekolah dengan bimbingan guru.