Opini Unika Santu Paulus Ruteng
Berdebat, Tidak Sekadar Berbicara
“Kan tinggal omong, susah apa?” “Bicara itu mudah, sulitnya di mana?” Itulah perkataan yang sering kita dengar dari orang lain
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Dosen-Berno-Unika-Ruteng.jpg)
Kalau dibedakan berdasarkan bentuk, debat dapat dibedakan menjadi traditional debate, the cross-examination debate or the oregon plan of debate, the direct clash debate, the split team debate, the heckling debate, dan the problem solving debate. Sementara, proses berdebat menghadirkan dua kelompok. Kelompok satu disebut Kelompok Pendukung (The Affirmative) terdiri dari orang-orang yang menyetujui tema atau mosi debat, dan kelompok dua disebut Kelompok Penyanggah (The Negative) yang terdiri dari orang-orang yang tidak menyetujui gagasan atau mosi tersebut. Posisi keduanya seperti ditulis Ayudia Bing Slamet dalam Teman Tapi Menikah, “Kalau dekat suka debat, kalau jauh suka merindu”.
Tema perdebatan juga mendapat perhatian. Tema yang menjadi mosi benar-benar mengundang perdebatan; menarik dan penting; mendapat perhatian dan memerlukan pemecahan; tersedia sumber, referensi, atau contoh berhubungan dengan permasalahan yang dirumuskan dalam tema; tema harus menimbulkan pertentangan; dan bagus juga kalau tema yang aktual dan faktual.
Berdebat tidak cukup bermodalkan berani omong, bagus berbicara. Persiapan sebagai modal argumen yang menjadi prioritas. Pertama, perlu sikap analitis terhadap tema atau mosi yang diperdebatkan. Tema sebagai mosi perdebatan perlu dianalisis secara mendalam dan penguasaan hakikatnya secara benar. Apakah proposisi debat bersifat fakta, aktual, bedampak luas, bemanfaat, dan bernilai kehidupan; atau sebaliknya? Bahasa tema atau mosi juga perlu dianalisis sehingga argumen yang dibangun sesuai tema dan untuk mengutarakan pendirian yang diyakini dapat memenangkan perdebatan.
Kedua, meneliti. Kelompok debat harus mencari, membaca, dan mendeskripsikan bukti-bukti yang dipilih sebagai alat pembuktian yang akan memperkuat argumen kedudukannya dalam berdebat. Tentu, alat bukti yang sah sesuai permasalahan, relevan, dan valid. Alat bukti dihadirkan harus kontekstual, dari global atau umum ke khusus atau sebaliknya yang memiliki dampak signifikan bagi banyak orang.
Ketiga, menyusun persiapan. Kelompok debat perlu mengumpulkan dan menyusun pendapat-pendapat dalam suatu pola tertentu yang disiapkan untuk menjadi bahan pembuktian dan pertahanan. Perlu juga persiapan argumen resmi dan logis yang disusun dengan tepat untuk digunakan dalam perdebatan. Masing-masing peserta perlu membangun argumen yang teruntun dan sistematis, bukan spiral yang membuang-buang kesempatan. Argumen yang disiapkan hakikatnya disampaikan secara lisan dengan ekspresi, penekanan, jedah, dan intonasi yang tepat; tanpa membaca.
Keempat, menduga pendapat lawan. Berdebat berarti siap menangkis pendapat lawan dan berusaha meyakinkan lawan dengan pendirian yang kuat. Peserta debat harus sudah dapat menduga-duga pendirian lawan dan mengevaluasi pendapat itu, dan bagaimana cara menggugurkan pendapat lawan. Peserta juga harus sudah mengetahui pendirian mana yang akan diserang lawan, bagaimana mempertahankannya; dan bila menyadari bahwa pendiriannya itu lemah, segera dengan cepat dihindari dan tidak diutarakan. Debat sesungguhnya, yang diserang adalah masalah pokok (mosi), bukan hal-hal yang bersifat sampingan.
Proses bedebat biasanya dibangun oleh peserta dengan karakter argumen yang khas. Misalnya, pertama, peserta dengan karakter semut. Kita tau perilaku semut yang suka mencari makan sebanyaknya di mana-mana, lalu ditumpukkan pada satu tempat. Demikian ada peserta debat yang argumennya hanya berupa hasil kutipan dari berbagai sumber referensi sehingga terkesan tidak berisi. Peserta demikian lebih menonjolkan bukti-bukti harafiah tanpa membangun argumen analitis.
Kedua, peserta dengan karakter laba-laba. Karakter khas laba-laba adalah merangkai dan menghubungkan, menyambung sana-sini atau mengotak-atik. Demikian karakter peserta debat yang belum mampu membuat satu intisari yang bagus dan kuat dalam membangun argumen. Hal ini memungkinkan peserta menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain dengan membangun struktur kalimat efektif.
Ketiga, peserta dengan karakter lebah. Perilaku lebah, ia tidak sembarangan mengambil makanan. Lebah memilih yang bagus dari kelopok bunga; dan mengambil hanya sarinya. Dari sari inilah lahir madu yang bermanfaat. Peserta seperti ini yang diharapkan dalam berdebat. Tentu, tidak mudah. Butuh proses dan latihan membangun sebuah argumen yang diramu dengan cermat, analitis, kritis, menghadirkan pembuktian yang bisa dipertanggungjawabkan, serta menghasilkan simpulan dengan argumen yang kuat.
Saya jadi ingat kata-kata Amos Bronson Alcott, seorang filsuf, guru dan pendidik dari Amerika Serikat (1799 - 1888) bahwa “debate is masculine, conversation is feminine”. Yah, roh debat itu harus didominasi seperti karakter seorang laki-laki yang dibingkai dengan kata-kata seperti seorang perempuan. Artinya, perbedaan pandangan dalam debat harus menunjukkan kejujuran, bukan perpecahan. Pada dasarnya, di dalam debat justru terbuka ruang untuk saling melengkapi wawasan dalam menyikapi hal yang diperdebatkan (Alissa Wahid, 2023).
Dalam perdebatan sebetulnya yang dibutuhkan adalah adu gagasan dan ide. Harusnya perdebatan itu membantu kelompok memahami sudut pandang yang berbeda, bukan saling menjatuhkan. Kelompok pro dan kontra menyampaikan gagasan sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi publik. Jika fokus menyampaikan gagasan, maka tidak ada waktu yang terbuang hanya untuk saling menuding dan menjatuhkan. Kalau waktu dihabiskan hanya untuk menjatuhkan, ya berat. Misalnya, menggunakan istilah yang susah dipahami, itu boleh tapi etikanya lebih baik jangan karena kita tidak bisa mengukur pemahaman gagasannya.
Dalam proses debat juga perlu mempersiapkan data-data yang baik dan benar sehingga proses debat ebih bisa mengarahkan ke dalam pembahasan yang substansial. Apalagi peserta “ditekan” dan didesak oleh waktu, sehingga harus benar-benar persiapan untuk tampil baik sehingga tidak seenaknya. Karena itu, peserta harus menguasai diri, mengutarakan hal-hal pokok yang menjadi dasar pendiriannya.
Weston (2007) menawarkan beberapa kaidah dalam membangun argumen debat, seperti bedakan premis dan simpulan; sampaikan gagasan secara sistematis atau berurutan dan alamiah; mulailah dari premis (mosi) yang bisa meyakinkan lawan debat; hadirkan argumen yang konkret dan ringkas; hindari bahasa yang berlebihan dan bertele-tele; gunakan istilah dan diksi yang konsisten dalam berargumen; dan pancangkan makna pada istilah-istilah asing dan kurang populer.
Saya sepakat dengan James S. Mc. Carthy (1965:101) bahwa argumen yang menjadi prioritas bukan sekadar berbicara. Keberhasilan dalam berdebat terletak pada erat hubungan pikiran dan bahasa sebagai alat pendukung pikiran.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News