Berita Sikka
Sanggar Bliran Sina: Warisan Budaya dari Watublapi untuk Dunia
Semua aktivitas dalam Sanggar Bliran Sina wajib melibatkan anak kecil dan remaja supaya mereka sadar kalau apa yang ada di
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Kesibukan warga Dusun Watublapi, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka pada Selasa, 24 Juni 2025 berbeda dari hari-hari lainnya, terutama bagi para anggota Sanggar Bliran Sina. Para perempuan menggotong lembaran kain tenun dari rumah untuk dipajang di lokasi sanggar. Sejumlah lelaki dewasa sibuk menyiapkan panggung pertunjukan budaya. Hawa dingin pagi hari, awan mendung menggelayut di langit, dan semilir angin yang berdesir di antara rimbunnya pepohonan menemani aktivitas mereka.
Hari itu kampung Watublapi siap menyambut 130 wisatawan mancanegara yang turun dari kapal pesiar berbendera Prancis. Sebenarnya, ini adalah pemandangan yang biasa di Watublapi. Selama lebih dari tiga dekade, sanggar ini telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit para pelancong dari dalam dan luar negeri. Tempat ini menawarkan pengalaman yang tidak biasa; satu paket lengkap menelusuri kekayaan tradisi yang masih diwariskan sampai sekarang.
Sebelum rombongan wisatawan itu tiba, Yosep Gervasius, dan beberapa perempuan anggota sanggar menyambut terbitnya mentari dengan cara melipir ke pojokan, menggelar piong wodor. Secangkir moke, kopi panas, rokok koli, lekun, dan sirih pinang dipersembahkan untuk para leluhur. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa dalam diam. Tradisi ini selalu dilangsungkan untuk kelancaran suatu hajatan. Setelah piong wodor dilangsungkan, barulah acara penyambutan tamu siap digelar. Anak-anak dan para perempuan penari serta para penabuh gong waning sudah bersiap dengan pakaian adat lengkap.
Baca juga: Sanggar Bliran Sina: Menyebar Pengetahuan dari Timur ke Barat
Hari itu, dari Pelabuhan Sadang Bui Maumere, para wisatawan, menggunakan 12 bus pariwisata, bertolak ke kampung Watublapi, 15 kilometer ke arah timut Kota Maumere. Disambut senyum ramah warga kampung, ratusan wisatawan itu pun menunjukkan kekaguman. Mereka diterima dengan ritus huler wair, lalu tarian hegong dan musik seruling dari kelompok sanggar Blatan Jawa mengiringi langkah kaki para wisatawan masuk ke dalam sanggar.
Di lokasi pertunjukan budaya, para wisatawan disuguhi lekun (kudapan khas masyarakat Krowe-Sikka berbahan dasar beras ketan hitam dicampur beras putih), lalu mereka juga sempat mencoba rokok koli, sirih pinang dan moke. Semua panganan itu disajikan di atas wadah yang terbuat dari tempurung kelapa dan dibungkus dengan daun pisang.
Para pemandu sigap menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari rasa penasaran para wisatawan. Mereka menikmatinya sambil menyaksikan atraksi tarian dan orkes kampung.
Sanggar Bliran Sina didirikan pada tahun 1988 oleh Romanus Rego untuk tujuan pelestarian dan distribusi kain tenun. Saat itu, Romanus dan istrinya Yustina Neing bersama warga Watublapi lainnya sudah sering menjual kain tenun mereka di Kota Maumere untuk membiayai hidup keluarga. Setelah Romanus Rego meninggal pada tahun 1991, pengelolaan sanggar sempat vakum selama 3 bulan, lalu pengelolaannya beralih ke pemerintah desa selama 6 bulan. Kemudian anak-anak Romanus kembali mengurus sanggar ini lagi.
Bliran Sina saat ini dikelola oleh Yosep Gervasius, salah satu anak dari Romanus Rego dan Yustina Neing. Sanggar ini telah berkembang pesat dan terkenal. Tak hanya fokus pada distribusi tenun saja, Bliran Sina kini juga menjadi spot agrowisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.
Di Bliran Sina, para wisatawan juga bisa belajar secara langsung proses pembuatan tenun yang rumit, jenis-jenis kain tenun, mempelajari makna dari motif-motif tenun, dan jenis-jenis pakaian adat, makna dari tarian-tarian tradisional, dan sistem pengetahuan masyarakat setempat.
Metode transfer pengetahuan semacam ini rupanya membuat para wisatawan terkesan. Reice dari Belanda memuji kehangatan orang Watublapi dalam merawat nilai-nilai tradisi yang kaya akan pengetahuan.
Dia kagum dengan keramahan warga desa menyambut setiap pengunjung yang datang. Keramahan yang alami, wujud kedekatan masyarakat dengan sesama, alam dan Sang Khalik.
Cristine, seorang wisatawan dari Kanada, merasa beruntung bisa melihat langsung kekayaan tradisi yang dipertunjukkan di Sanggar Bliran Sina. Dia senang menyaksikan tarian-tarian yang indah dan mengalami kekayaan tradisi yang masih terjaga baik.
Sanggar Bliran Sina Watublapi
Sanggar Budaya Bliran Sina
Sanggar Budaya Bliran Sina Watublapi
TribunFlores.com
| Peletakan Batu Pertama Jalan Yos Sudarso, Perkuat Akses Vital ke Pelabuhan Tenau Kupang |
|
|---|
| Diinterogasi Polisi Soal Kasus Penipuan, Oknum Pengacara di Flores Timur Akui Terima Uang |
|
|---|
| Sudah 6 Warga Manggarai Tewas Karena Lakalantas Tahun 2025, Polisi Minta Warga Tertib Lalu Lintas |
|
|---|
| Jurnalis Televisi di Belu Bagikan Bendera Merah Putih untuk Warga Perbatasan RI-Timor Leste |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Sanggar-Bliran-Sina.jpg)