Prakiraan Cuaca
Prospek Cuaca 12-18 September 2025: Bibit Siklon-Gelombang Atmosfer Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem
Memasuki dasarian kedua September, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan akan terjadi terutama di wilayah
Penulis: Cristin Adal | Editor: Cristin Adal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Prakiraan-cuaca-BMKG-30-Juli-hingga-05-Agustus-2024.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- BMKG mengungapkan prospek cuaca mingguan periode 12 – 18 September 2025, ada aktivitas Bibit Siklon dan Gelombang Atmosfer yang berpotensi meningkatkan risiko cuaca ekstrem.
Pada periode 8–10 September, sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Di beberapa daerah, curah hujan bahkan mencapai kategori lebat hingga ekstrem. Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh berbagai dinamika atmosfer yang tengah berlangsung di kawasan Indonesia.
Memasuki dasarian kedua September, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan akan terjadi terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia. Secara atmosferik, hal ini dipengaruhi oleh nilai Dipole Mode Index (DMI) yang negatif, sehingga memicu peningkatan aktivitas konvektif.
Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca NTT 11–13 September 2025, Waspadai Angin Kencang dan Potensi Karhutla
Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih aktif hingga sepekan mendatang.
Indikasi ini juga terlihat dari nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang secara signifikan menunjukkan nilai negatif, menandakan kecenderungan pertumbuhan awan hujan.
Faktor lain yang turut memperkuat kondisi tersebut adalah keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia barat Sumatera serta pola siklonik di sekitar Kalimantan Utara.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Selama sepekan ke depan, kondisi atmosfer pada skala global, regional, hingga lokal diperkirakan akan menyebabkan cuaca di Indonesia cenderung bervariasi. Potensi cuaca signifikan berupa hujan lebat disertai angin kencang berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, serta kawasan Indonesia bagian tengah hingga timur.
Secara global, fase Dipole Mode Index (DMI) yang negatif (−1,27) mendukung peningkatan pasokan uap air ke wilayah Indonesia bagian Barat. Sementara itu, secara regional, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang dominan bernilai negatif di sebagian besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, serta wilayah tengah hingga timur Indonesia menjadi indikator aktifnya proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujan.
Di sisi lain, aktivitas gelombang atmosfer juga berperan penting. Fenomena MJO, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuator masih diperkirakan aktif di wilayah Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan Barat–Tengah, Papua Selatan, hingga Papua Barat Daya, yang berkontribusi dalam peningkatan konveksi dan awan hujan. Selain itu, gelombang atmosfer dengan frekuensi rendah juga terpantau berada di sebagian besar wilayah Indonesia, dari barat hingga timur, sehingga semakin memperkuat peluang hujan.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah keberadaan bibit siklon tropis 93 S di Samudra Hindia barat Bengkulu yang membentuk daerah konvergensi (perlambatan kecepatan angin) dan konfluensi (pertemuan angin) memanjang dari Selat Malaka hingga Bengkulu.
| BMKG Prediksi Cuaca NTT 11–13 September 2025, Waspadai Angin Kencang dan Potensi Karhutla |
|
|---|
| BMKG Ungkap Penyebab Hujan Deras di Musim Kemarau Hingga Banjir Bandang di Nagekeo |
|
|---|
| BMKG Ungkap Penyebab Hujan Deras saat Musim Kemarau di NTT |
|
|---|
| Labilitas Lokal Dukung Terbentuknya Awan Hujan di NTT, BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca BMKG Selasa 9 September 2025, Manggarai Hujan Ringan hingga Lebat |
|
|---|