Minggu, 3 Mei 2026

Prakiraan Cuaca

Prospek Cuaca 12-18 September 2025: Bibit Siklon-Gelombang Atmosfer Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem

Memasuki dasarian kedua September, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan akan terjadi terutama di wilayah

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Cristin Adal
zoom-inlihat foto Prospek Cuaca 12-18 September 2025: Bibit Siklon-Gelombang Atmosfer Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem
TRIBUNFLORES.COM/HO.PUSDALOPS BPBD NTT
CUACA - Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 30 Juli hingga 05 Agustus 2024. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- BMKG mengungapkan prospek cuaca mingguan periode 12 – 18 September 2025, ada aktivitas Bibit Siklon dan Gelombang Atmosfer yang berpotensi meningkatkan risiko cuaca ekstrem.

Pada periode 8–10 September, sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. 

Di beberapa daerah, curah hujan bahkan mencapai kategori lebat hingga ekstrem. Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh berbagai dinamika atmosfer yang tengah berlangsung di kawasan Indonesia.

Memasuki dasarian kedua September, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan akan terjadi terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia. Secara atmosferik, hal ini dipengaruhi oleh nilai Dipole Mode Index (DMI) yang negatif, sehingga memicu peningkatan aktivitas konvektif.

 

Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca NTT 11–13 September 2025, Waspadai Angin Kencang dan Potensi Karhutla

 

 

Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih aktif hingga sepekan mendatang. 

Indikasi ini juga terlihat dari nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang secara signifikan menunjukkan nilai negatif, menandakan kecenderungan pertumbuhan awan hujan. 

Faktor lain yang turut memperkuat kondisi tersebut adalah keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia barat Sumatera serta pola siklonik di sekitar Kalimantan Utara.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Selama sepekan ke depan, kondisi atmosfer pada skala global, regional, hingga lokal diperkirakan akan menyebabkan cuaca di Indonesia cenderung bervariasi. Potensi cuaca signifikan berupa hujan lebat disertai angin kencang berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, serta kawasan Indonesia bagian tengah hingga timur. 

Secara global, fase Dipole Mode Index (DMI) yang negatif (−1,27) mendukung peningkatan pasokan uap air ke wilayah Indonesia bagian Barat. Sementara itu, secara regional, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang dominan bernilai negatif di sebagian besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, serta wilayah tengah hingga timur Indonesia menjadi indikator aktifnya proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujan.

Di sisi lain, aktivitas gelombang atmosfer juga berperan penting. Fenomena MJO, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuator masih diperkirakan aktif di wilayah Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan Barat–Tengah, Papua Selatan, hingga Papua Barat Daya, yang berkontribusi dalam peningkatan konveksi dan awan hujan. Selain itu, gelombang atmosfer dengan frekuensi rendah juga terpantau berada di sebagian besar wilayah Indonesia, dari barat hingga timur, sehingga semakin memperkuat peluang hujan.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah keberadaan bibit siklon tropis 93 S di Samudra Hindia barat Bengkulu yang membentuk daerah konvergensi (perlambatan kecepatan angin) dan konfluensi (pertemuan angin) memanjang dari Selat Malaka hingga Bengkulu. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved