Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Ngada

Kampus Bambu Turetogo, Ruang Belajar Lingkungan dan Kewirausahaan di Ngada

Leonardo mengaku telah lama mengenal Kampus Bambu Turetogo melalui media sosial. Popularitas tempat ini semakin

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Kampus Bambu Turetogo, Ruang Belajar Lingkungan dan Kewirausahaan di Ngada
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/HO-SISKA
Mahasiswa Magang Kampus Bambu dari Program Studi Kewirausahaan Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero angkatan pertama di Kampus Bambu Turitogu, yang terletak di Turetogo, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. 

Oleh: Mahasiswa Magang Kampus Bambu dari Prodi Kewirausahaan IFTK Ledalero Angkatan Pertama

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Kampus Bambu Turetogo yang terletak di Turetogo, Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, terus menarik perhatian masyarakat sebagai ruang belajar berbasis lingkungan, budaya dan kewirausahaan.

Salah satu pengunjung, Leonardo Rato (27), warga Bajawa, mengungkapkan ketertarikannya saat berkunjung ke Kampus Bambu Turetogo pada 8 Agustus 2025, bertepatan dengan kegiatan Pasar Napu Bheto, sekitar pukul 11.00 WITA.

Leonardo mengaku telah lama mengenal Kampus Bambu Turetogo melalui media sosial. Popularitas tempat ini semakin meningkat sejak adanya kunjungan Presiden Joko Widodo beberapa tahun lalu. Namun, karena keterbatasan waktu, ia baru berkesempatan mengunjungi lokasi tersebut.

“Saya penasaran, karena selama ini bambu hanya kita manfaatkan secara konvensional. Dari foto-foto yang saya lihat, bambu ternyata bisa dijadikan bangunan yang ikonik,” ujarnya.

 

Baca juga: Kampus Bambu Turetogo Ngada, Satu-satunya Ekowisata Bambu di NTT

 

 

Kesan mendalam pun dirasakan Leonardo saat pertama kali tiba di lokasi. Menurutnya, Kampus Bambu Turetogo tidak hanya menawarkan spot foto, tetapi juga pengalaman edukatif yang berkesan.

“Kita disambut hamparan rumpun bambu dari ujung jalan sampai bangunan. Udara terasa sejuk dan tenang. Kami juga dipandu dengan sangat baik oleh staf di sini sehingga bisa memahami nilai filosofis, budaya, dan lingkungan dari bambu,” jelasnya.

Leonardo menilai keberadaan Kampus Bambu Turetogo masih sangat relevan di tengah era digital. Ia menyebutkan bahwa pengalaman belajar langsung di lapangan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh informasi yang diperoleh melalui media sosial.

“Hal yang kita lihat di media digital akan jauh lebih bermakna ketika kita datang langsung dan terlibat dalam kegiatan di sini,” tambahnya.

Ia pun berharap Kampus Bambu Turetogo terus berkembang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Ruang Belajar Berbasis Lingkungan dan Budaya

Sementara itu, Koordinator Kampus Bambu Turetogo, Maria Goreti Watu, S.Pd, menjelaskan latar belakang berdirinya Kampus Bambu Turetogo saat diwawancarai pada Senin, 1 September 2025.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved