Senin, 20 April 2026

Berita Ngada

Kasus Kematian Pasien Jadi Sorotan, DPRD Ngada Panggil Manajemen RSUD Bajawa

Petugas IGD sempat melakukan pemeriksaan awal dan pemasangan infus sebelum menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap.

Tayang:
Penulis: Charles Abar | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Kasus Kematian Pasien Jadi Sorotan, DPRD Ngada Panggil Manajemen RSUD Bajawa
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/CHARLES ABAR.
RDP - Situasi rapat dengar pendapat Komisi III DPRD Ngada bersama manajemen RSUD Bajawa di ruang rapat DPRD Ngada, Kamis (5/3/2026).  

Ringkasan Berita:
  • Pelayanan di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada disorot setelah keluarga almarhum Bripka Maksimus Ngai Rema mengeluhkan dugaan kelalaian tenaga medis selama masa perawatan.
  • Keluarga menilai perawat tidak merespons cepat saat kondisi pasien memburuk.
  • Menanggapi kasus tersebut, Komisi III DPRD Ngada memanggil manajemen RSUD Bajawa, Dinas Kesehatan, dan pihak terkait untuk klarifikasi melalui rapat dengar pendapat.

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Pelayanan kesehatan di RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi sorotan publik. 

Dugaan kelalaian tenaga medis mencuat setelah keluarga almarhum Bripka Maksimus Ngai Rema menyampaikan keluhan atas pelayanan yang dinilai tidak maksimal selama menjalani perawatan.

Keluhan tersebut disampaikan oleh istri almarhum, Yuliana Anu Bue, pada Rabu, 4 Maret 2026. Ia menilai perawat yang bertugas tidak menunjukkan respons cepat dan itikad baik demi keselamatan pasien.

Dalam kronologi tertulis yang disampaikan keluarga, almarhum mulai dirawat di RSUD Bajawa sejak 26 Februari 2026. Saat itu, ia mengalami sakit gigi disertai pembengkakan pada pipi serta kesulitan menelan makanan.

 

Baca juga: Wabup Ngada Resmi Berangkatkan Pasien Rujukan ke Bali, Satu Bayi Kondisi Kritis

 

 

Petugas IGD sempat melakukan pemeriksaan awal dan pemasangan infus sebelum menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap.

Pada 28 Februari 2026 sekitar pukul 23.00 Wita, cairan infus pasien dilaporkan habis. Menurut istri korban, saat itu suaminya mulai mengalami keringat dingin dan mengeluh lapar. Ia kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada petugas piket malam.

Namun, ia mengaku tidak menemukan petugas di ruang perawat. Setelah mengetuk pintu kamar, ia melihat perawat sedang bermain telepon genggam. Ia kembali menyampaikan bahwa cairan infus telah habis, tetapi menurut pengakuannya, perawat tidak segera mengganti infus dengan alasan jatah cairan masih cukup hingga pagi dan tetesan dinilai terlalu cepat.

Sejak saat itu, kondisi pasien disebut semakin gelisah, namun belum ada tindakan lanjutan dari petugas.

Kondisi Memburuk, Perawat Dinilai Lalai

Pada 1 Maret 2026 sekitar pukul 07.00 Wita, istri korban memberi makan almarhum melalui selang. Pagi itu, petugas melakukan pemeriksaan gula darah dan infus serta memberikan satu tablet obat asam Volat kepada keluarga untuk dipecahkan sendiri.

Hal tersebut membuat keluarga merasa heran karena menurutnya tidak lazim keluarga pasien diminta memecahkan obat di ruang medis. Karena kebingungan dengan pelayanan yang diterima, ia kemudian menghubungi keluarganya yang berprofesi sebagai perawat di RSUD Borong untuk meminta saran.

Kondisi pasien kembali menurun pada 2 Maret 2026. Korban dilaporkan mengeluarkan darah dari mulut. Menurut istri korban, perawat yang bertugas masih orang yang sama dan dinilai tidak merespons serius keluhan tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved