Cuaca Ekstrem di NTT
NTT Hadapi Musim Hujan Ekstrem, BMKG Keluarkan Peringatan
Puncak Musim Hujan Januari–Februari 2026 – Hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan potensi puting beliung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/HUJAN-Suasana-saat-hujan-di-Maumere-Flores-NTT-Kamis-2912026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Puncak Musim Hujan Januari–Februari 2026 Hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan potensi puting beliung.
- Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem – Monsun Asia, ITCZ, gelombang atmosfer, IOD negatif, La Niña lemah, dan suhu laut hangat.
- Imbauan untuk Warga – Waspada banjir, tanah longsor, dan angin kencang; pantau informasi BMKG/BPBD; amankan benda di sekitar rumah.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta adanya kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Sti Nenot'ek menyebut puncak musim hujan di NTT dari Januari hingga Februari 2026.
Pada masa itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem yang dapat timbul dan mengakibatkan bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.
Berdasarkan analisis cuaca ada beberapa fenomena Atmosfer yang diperkirakan dapat menyebabkan potensi cuaca ekstrem. Cuaca itu seperti hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.
Baca juga: Cuaca Ekstrem di Ende, BPBD Ende Terima 11 Laporan Dampak Bencana
Puncak Musim Hujan
"Hujan sedang hingga sangat lebat, petir/kilat, angin kencang dan puting beliung di wilayah NTT selama periode puncak musim hujan yang sudah terjadi dari pertengahan bulan Januari 2026 dan diperkirakan akan terjadi hingga akhir Februari 2026," ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Sti mengatakan, BMKG juga memantau aktifnya Monsun Asia yang ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, massa udara dari Asia bergerak ke arah selatan, memasuki wilayah Indonesia teramati di Laut Cina Selatan dan Selat Karimata.
Hal itu membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau InterTropical Convergence Zone (ITCZ) dari wilayah Samudera Hindia barat Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Laut Arafura.
Selain itu, terdapat pusat tekanan rendah dapat berkembang menjadi bibit siklon tropis hingga menjadi siklon tropis, pusat tekanan rendah tersebut dapat terbentuk di sekitar wilayah selatan NTT.
Fenomena tersebut menimbulkan pertemuan, perlambatan dan belokan angin yang dapat menyebabkan peningkatan curah hujan yang disertai kilat/petir dan angin kencang sehingga dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi.
Pemicu Cuaca Ekstrem
Dia menyebut, cuaca ekstrem ini juga dipicu kombinasi beberapa gelombang atmosfer seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby dan Kelvin sedang aktif atau berada pada fase yang mendukung pembentukan awan hujan.
"Gelombang-gelombang ini memicu konvergensi udara di lapisan bawah atmosfer, mendorong baiknya udara yang lembap," ujarnya.
BMKG juga memantau Indian Ocean Dipole (IOD) yang bernilai negatif serta La Niña lemah, yang keduanya cenderung meningkatkan aliran massa udara basah dari Samudera Hindia masuk ke wilayah Indonesia.
La Nina lemah, ujar dia, tetap bisa memberi dampak, terutama saat puncak musim hujan dari Januari–Februari. Meski tidak sekuat La Nina sedang atau kuat namun dampaknya masih terasa dalam bentuk peningkatan curah hujan di banyak wilayah Indonesia khususnya NTT.
Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, kelembapan udara di lapisan atmosfer berkisar 700 milibar dan 500 milibar terpantau cukup basah, didukung oleh suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah NTT.
"Kondisi ini meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan yang masif," katanya.
Terhadap kondisi itu, masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di daerah rawan bencana.
Hindari aktivitas di sekitar sungai, lereng curam, dan wilayah rawan tanah longsor saat hujan lebat. Warga juga diminta untuk mengamankan benda-benda di sekitar rumah yang mudah terbawa angin atau air.
"Selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti imbauan resmi dari BMKG dan BPBD setempat," tambah dia. (fan)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.