Berita NTT
BPS Catat Nilai Tukar Petani NTT Menurun pada Maret 2026, Sektor Perkebunan Paling Tertekan
Nilai Tukar Petani (NTP) NTT mengalami penuruanan pada Maret 2026 dipicu indeks harga yang diterima petani lambat.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/buah-kakao-kebun-gondo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode Maret 2026.
- BPS NTT menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh pertumbuhan indeks harga yang diterima petani yang tidak mampu mengejar kecepatan kenaikan indeks harga yang harus dibayar.
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode Maret 2026.
Indeks yang menjadi indikator daya beli masyarakat perdesaan ini tercatat sebesar 100,27, atau turun 0,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
BPS NTT menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh pertumbuhan indeks harga yang diterima petani yang tidak mampu mengejar kecepatan kenaikan indeks harga yang harus dibayar.
"Terjadi penurunan sebesar 0,65 persen pada Maret 2026 jika dibandingkan dengan Februari. Hal ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih lambat dibandingkan harga bayar," tulis BPS dalam laporan resminya, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: NTT Berada pada Musim Pancaroba, Waspada Hujan dan Angin Berdurasi Singkat
Sektor Peternakan Tertinggi, Perkebunan Merosot
Meski secara akumulatif angka NTP masih berada di ambang batas 100, fluktuasi tajam terjadi di berbagai subsektor. Sektor peternakan (NTP-Pt) tercatat sebagai subsektor paling stabil dengan angka 105,20, disusul oleh tanaman pangan (NTP-P) sebesar 103,07.
Namun, kondisi kontras terlihat pada subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR) yang terperosok ke angka 92,57. Angka di bawah 100 ini menunjukkan bahwa petani di sektor perkebunan mengalami defisit, di mana hasil penjualan komoditas mereka tidak cukup untuk menutupi biaya produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Kondisi serupa dialami oleh petani hortikultura dengan NTP sebesar 96,68 dan sektor perikanan yang berada di angka 97,09. Inflasi di perdesaan tekanan terhadap daya beli petani semakin diperparah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah perdesaan.
BPS mencatat terjadi perubahan indeks konsumsi rumah tangga di daerah perdesaan sebesar 0,40 persen. Peningkatan biaya hidup di desa ini menjadi faktor krusial yang menyebabkan petani tetap merasa kesulitan meskipun harga komoditas di pasar mungkin mengalami sedikit kenaikan. Sebagai informasi, penghitungan NTP Maret 2026 mencakup lima subsektor utama pertanian di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: Upaya Rumah Kopi Bajawa Flores Memutus Rantai Ijon dan Mengembalikan Kedaulatan Petani
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan 21 kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada bulan Maret 2026, NTP Nusa Tenggara Timur tercatat sebesar 100,27 atau turun 0,65 persen dibanding bulan Februari 2026 yang sebesar 100,92.
Penurunan NTP pada Maret 2026 disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan. Indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,29 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,35 persen.
Fluktuasi Indeks Harga
Indeks Harga yang diterima petani (It) pada hampir semua subsektor pertanian mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman pangan turun sebesar 0,37 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,84 persen, subsektor peternakan turun sebesar 0,42 persen dan subsektor perikanan turun sebesar 0,82 persen. Sementara itu, subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP. Subsektor Hortikultura naik sebesar 1,23 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang terbesar perubahan It antara lain kakao/coklat biji, jagung, kelapa, kacang hijau, babi, kemiri, gabah, dan cabai rawit.
Sementara indeks harga yang dibayar oleh petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
Pada Maret 2026, Ib naik sebesar 0,35 persen bila dibandingkan Ib Februari 2026, yaitu dari 120,86 pada Februari 2026 menjadi 121,28 pada Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh kenaikan nilai Ib pada semua subsektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,37 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,38 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,36 persen, subsektor peternakan sebesar 0,29 persen dan lb subsektor perikanan naik sebesar 0,27 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang terbesar naiknya Ib yaitu beras, kemiri, cabai rawit, cabai merah, tomat, ikan tembang dan daging ayam ras.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News