Berita NTT
Hariqo Wibawa Satria: Satu Konten Hoaks Bisa Picu Sejuta Kebencian
Satu konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) bisa melahirkan sejuta kebencian. Demikian disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/ILUSTRASI-HOAX-Pemilu-2024.jpg)
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eugenius Suba Boro
POS-KUPANG.COM, KUPANG — Satu konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) bisa melahirkan sejuta kebencian.
Demikian disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hariqo Wibawa Satria, menanggapi masifnya peredaran konten DFK di media sosial.
Hariqo mencontohkan, beredarnya video buatan akal imitasi (AI) yang seolah menampilkan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan “guru adalah beban negara”.
Sebelumnya, jagat maya juga sempat dihebohkan dengan video palsu (deepfake) Presiden Prabowo Subianto yang digambarkan menawarkan bantuan langsung kepada masyarakat.
“Satu ulasan yang berisi DFK pada sebuah rumah makan bisa membuat ribuan pelanggan berhenti makan di situ. Demikian juga satu video DFK bisa melahirkan sejuta kebencian pada seorang pemuka agama hingga pemimpin. Satu peluru hanya bisa membunuh satu tubuh, tapi satu disinformasi dapat ‘membunuh’ persaudaraan, kepercayaan, bahkan masa depan sebuah bangsa,” kata Hariqo, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: PKK Jadi Pilar Penting Bangun Ketahanan Keluarga di NTT
Laporan Risiko Global 2025 yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai ancaman global nomor empat, bahkan diprediksi menjadi ancaman nomor satu pada 2027.
Laporan ini berdasarkan survei terhadap lebih dari 900 pakar internasional lintas sektor.
Hariqo menegaskan, dampak DFK nyata terasa di banyak negara. Di Amerika Serikat, analisis Kaiser Family Foundation (2022) menyebut sekitar 234.000 kematian akibat COVID-19 antara Juni 2021 hingga April 2022 sebenarnya dapat dicegah jika vaksinasi penuh dilakukan. Namun penolakan vaksin yang dipicu disinformasi turut menyumbang angka kematian tersebut.
Di Inggris, kerusuhan selama hampir dua pekan pada Agustus 2024 dipicu oleh disinformasi terkait kasus pembunuhan tiga anak perempuan di Southport. Sementara di Los Angeles, Amerika Serikat, kerusuhan pada Juni 2025 juga dipicu disinformasi tentang operasi penegakan hukum imigrasi.
Kasus serupa juga terjadi di Wamena, Papua Pegunungan, tahun 2023 akibat narasi menyesatkan di media sosial.
“Disinformasi adalah api kecil yang bisa membakar seluruh peradaban jika dibiarkan, terutama di Indonesia yang sangat majemuk dengan 1.340 suku bangsa. Perbedaan adalah kekuatan bangsa Indonesia, jangan sampai DFK membuatnya menjadi kelemahan,” ujarnya.