Usaha Bata Merah di Sikka
LIPSUS: Usaha Bata Merah di Wolomarang Sikka, Warisan Keluarga yang Jadi Harapan Warga
Aroma tanah dan asap pembakaran bata merah menjadi tanda geliat perajin bata merah di Wolomarang menjaga denyut ekonomi keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/usaha-bata-merah.jpg)
Baca juga: Cenderaloka Langsung Menyasar Pelaku UMKM, Bantu Publikasi dan Pemasaran Produk
Di sini, pembuatan bata merah tidak hanya dikerjakan laki-laki. Para ibu, bahkan anak-anak, ikut membantu.
Para istri pekerja kerap menemani suami di lokasi produksi, membantu mencetak dan menggaruk bata agar target cepat tercapai.
“Biasanya pekerjanya laki-laki, tapi ibu-ibu juga sering membantu suami. Anak-anak pun kadang ikut menggaruk,” kata Cindi.
Pekerja yang menangani proses cetak, menggaruk, hingga mengangkut bata ke tungku pembakaran mendapat upah Rp150 per bata.
Sementara itu, pekerja yang hanya mencetak dan mengangkut bata ke tempat pembakaran mendapat upah Rp100 per bata.
Satu kali produksi bisa memakan waktu tiga minggu hingga satu bulan. Kapasitas pembakaran pun cukup besar.
Untuk dua pintu atau lubang pembakaran, sekali bakar bisa menghasilkan sekitar 28.000 bata merah. Jika tiga pintu digunakan, jumlahnya bisa mencapai 40.000 bata.
Namun, untuk mencapai produksi sebesar itu, bahan baku yang dibutuhkan juga besar. Setiap produksi memerlukan sekitar 13 truk tanah dan 4 mobil pikap kayu.
Harga satu truk tanah berkisar Rp350 ribu, sementara satu pikap kayu mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Di antara proses panjang itu, ada satu tahapan penting yang tidak boleh dilewatkan, yaitu menaburkan dedak kasar di atas susunan bata sebelum pembakaran. Dedak ini berfungsi untuk membentuk warna merah pada bata.
Namun, semua kerja keras ini bisa sia-sia jika cuaca tidak bersahabat. Musim hujan adalah tantangan terbesar. Terpal bocor dan air yang merembes bisa merusak batu yang sudah dikeringkan berhari-hari.
“Kami kesusahan ketika musim hujan tiba, kadang terpal kami bocor, air hujan merembes masuk kena batu yang kering. Akhirnya kami harus kerja ulang lagi,” ujar Cindi.
Cindi dan suaminya harus bekerja ekstra keras agar air hujan tidak merusak batu yang sudah kering.