Berita Nagekeo

Pembangunan Waduk Lambo Rp 1,4 Triliun Ditolak Warga Malapoma Nagekeo

Proyek Waduk Lambo Rp 1,4 Triliun ditolak warga Dusun Malapoma Desa Rendubotowe Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Warga Malapoma memasang spanduk penolakan lokasi pembangunan waduk Lambo. Gambar diambil, Jumat 24 September 2021 

Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Tommy Mbenu Nulangi

TRIBUN FLORES.COM,MBAY-Warga Dusun Malapoma Desa Rendubotowe,Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo menolak lokasi pembangunan Waduk Lambo meskipun proses proyek senilai Rp 1,4 triliun tersebut sudah mulai berjalan.

Warga menolak lokasi proyek karena mengancam warisan budaya di sekitar wilayah pembangunan waduk.Selain itu lahan milik warga yang ada di sekitar lokasi pembangunan terancam terendam air.

Warga Malapoma, Matheus Bhui mengatakan perjuangan warga menolak pembangunan Waduk Lambo dilakukan sejak 2015. Saat itu tim melakukan sosialisasi terkait rencana pembangunan proyek nasional tersebut.

Perjuangan warga dilanjutkan lagi pada 2016 ketika tim teknis melakukan survei terhadap lokasi pembangunan Waduk Lambo.

Baca juga: 12 Desa Rawan Pangan di Nagekeo dapat 40,6 Ton Beras dari Pemda

"Mereka sosialisasi kami tolak, minta izin survei kami tolak. Karena beda nama Waduk Lambo tapi lokusnya sama yakni waduk Mbay yang dulu kami tolak tahun 2021. Jadi dari awal survei kami tidak izin. Karena dampak tenggelam semua kami punya lahan pertanian. Padang, ternak, kubur leluhur kami akan tenggelam," ujar Matheus kepada TRIBUN FLORES.COM di Dusun Malapoma, Jumat 24 September 2021.

Matheus mengungkapkan,kampung telah ada sejak 1993 sebelum adanya rencana pembangunan Waduk Lambo.

Mereka menawarkan kepada pemerintah supaya memindahkan lokasi pembangunan Waduk Lambo di daerah Lowo Pebho dan Malawaka. Namun usulan dari warga tidak diindahkan oleh pemerintah.

"Di tahun 2015 muncul lagi pembangunan Waduk Lambo, makanya kami tolak sampai hari ini. Saat mereka survei kami tidak izin," ungkapnya.

Baca juga: Bupati Nagekeo Serahkan Hibah Pembangunan Dua Masjid di Mauponggo

Matheus mengatakan perjuangan menolak pembangunan waduk merupakan kesepakatan bersama-sama seluruh masyarakat di Desa Rendubotowe.

Namun seiring perjuangan waktu dan adanya masukan, masyarakat di Desa Rendubotowe terpecah menjadi dua. Ada kelompok masyarakat yang pro dan ada masyarakat yang kontra terhadap pembangunan waduk.

"Mereka yang pro karena mereka tidak kena dampak. Hanya rumah. Disini mereka tidak ada kebun. Orang Ndora yang jauh disana, orang Lambo yang di jalan sana, orang Rendu di Jawakisa terima karena program pemerintah. Kami menolak karena terkenda dampak," ungkapnya.

Matheus mengungkapkan, antara warga yang menolak dan menerima pembangunan waduk masih berstatus keluarga karena masih berada dalam satu desa. Namun karena adanya pembangunan Waduk Lambo tersebut, maka dia bersama dengan salah satu tokoh masyarakat lainnya sudah tidak saling bertegur sapa.

Baca juga: Ritual ‘Poru Loru Keta Ja,’Terima Bupati Nagekeo Hadiri Pembangunan Kampung Adat Kawa

"Kalau warga yang lainnya, kehidupan mereka biasa. Saling tegur sapa biasa. Tapi kami dua hati boleh sama tapi sikap kami berbeda," tegasnya.

"Kalau soal pembangunan kami terima, hanya soal lokasi ini yang kami minta supaya pindah. Dari dulu sampai sekarang kami masih tetap tolak pembangunan waduk.Intinya kami minta pindah lokasi," ungkapnya

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved