Berita Nagekeo

Mengenal Ritual Rongga Kampung Nggolonio di Nagekeo, Tradisi Adat yang Kini Dihidupkan Kembali

Tak luput anak-anak seumuran SD hingga SMA juga berjalan kearah yang sama dengan semua memegang tombak bermata tiga-empat.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-IGNAS KUNDA
RITUAL ADAT - Sejumlah warga Kampung Nggolonio saat mengikuti ritual Rongga di Pantai Kawasan Nggolonio Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, Rabu 2 Februari 2022. 

Para lelaki perempuan serta para tua adat kampung mulai berjalan melewati hutan bakau menuju ke arah surutnya air.

Sekitar 500-700 meter dari tepi pantai merekapun berhenti.

Ada sebuah terusan yang terhubung dari arah laut. Terusan ini disebut Ulu Wolung. Seperti terusan Suez, terusan Ulu Wolung ini sangat dalam namun lebih sempit dengan lebar terusan variatif dari 6 - 10 meter.

Sehingga hanya bisa dilewati perahu atau kapal berbadan sempit.

Pada terusan ini seluruh warga mulai berhenti. Mereka mengelilingi terusan.

Salah seorang tua adat mulai membuka ritual dengan bahasa adat dan menebarkan akar tuba atau lareng untuk meracuni ikan pada terusan ini dimana akar tuba yang telah dicari dengan ritual adat pada dua hari sebelumnya.

Baca juga: Pemda Nagekeo Dorong Petani Akses Kredit Usaha Rakyat

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya mereka mulai menombak dengan beberapa ikan yang mulai tampak keluar dari air akibat keracunan akar tuba.

Rupanya akar tuba tak terlalu berkhasiat karena tidak banyak ikan yang teracuni. Terdengar teriakan riuh di sisi barat.

Mereka kegirangan ketika melihat seorang lelaki berhasil menombak ikan yang cukup besar seperti ikan kerapu yang hendak keluar dari terusan menuju laut.

Tidak beberapa lama terdengar kembali suara riuh dari sisi timur. Seorang lelaki lain berhasil menangkap seekor ikan pari.

Mereka berlomba-lomba menangkap atau menjaring ikan sebanyak mungkin untuk masuk kedalam tas atau keranjang mereka.

Paskalis Dhalu, seorang tua adat dari suku Tereng yang membuka acara tersebut juga terlihat menombak ikan. Ia lalu memasukan ikanya kedalam tas yang juga sudah disiapkannya.

Matanya terus mengawasi pergerakan ikan yang keluar dari terusan dengan tangan bersiap untuk menombak.

“Ritual ini sebagai tanda rekonsiliasi atau pertobatan, mungkin kami sudah lupa leluhur dengan alam karena hujan sudah mulai kurang, hasil panen sudah kurang, semua kesalahan harus kami buang biar hilang di lautan ini,” kata Paskalis.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved