Berita Lembata
DPRD Lembata Harap Kekerasan Terhadap Pekerja Media Dihentikan
Kekerasan menimpa pemimpin redaksi media online suaraflobamora.com diharapkan menjadi kasus kekerasan terakhir menimpa pekerja media di NTT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/DISKUSI-RABUAN.jpg)
“Hari ini yang begitu terbuka masih ada kekerasan kalau dibiarkan begitu mau bagaimana. Kekerasan publik jauh lebih kuat mematikan idealisme, kalau mewartakan dan mengungkap kebenaran tapi terus dibungkam,” tegasnya.
Terhadap kejadian ini, media perlu bergandengan tangan dengan semua elemen kritis, kampus, NGO, dan para aktivis untuk mengungkap lebih terang benderang fakta-fakta di balik kasus penganiayaan itu ke ruang publik.
Baca juga: Puluhan Anak Penyu Dikembalikan ke Pantai Riangdua Lembata
Petrus Pulang, akademisi dan peneliti menyampaikan apresiasi atas sdaritas profetis jurnalis dalam konteks persoalan malam ini. Di satu sisi sedang jalankan satu tugas metodologi. Inginkan data tervalidasi, melalui interview, investigasi untuk melihat data tervalidasi tidak. Di satu sisi terintimidasi dan di sisi lain mau mendapatkan data tervalidasi.
“Bagi saya, jurnalis itu doktor sosial dan menariknya dalam kerja ini mereka terintimidasi dan apakah tetap konsisten atau tidak memvalidasi data secara otentik melalui investigasi, interview,” tegas Petrus Pulang.
Hiero Bokilia mengatakan, ancaman hingga kekerasan fisik kepada wartawan bukan hal baru. Namun sangat disayangkan masih terus terjadi.
Ia berharap, ketika jurnalis mengembangkan jurnalisme damai, masyarakat pun dapat menempatkan diri sebagai pembaca damai agar tak memahami secara terputus pemberitaan media dan kemudian beropini secara liar yang berakibat terjadinya main hakim sendiri.
Baca juga: Simulasi Bencana di Lembata Menumbuhkan Kapasitas Keluarga Hadapi Bencana
Jurnalis pun, kata Hiero Bokilia, harus memback diri baik secara aturan, juga penguasaan materi pemberitaan agar yang disajikan ke publik komprehensif dan tak menimbulkan multi tafsir atas pemberitaan. Media juga harus siap dikoreksi sepanjang koreksi konstruktif.