Opini

Subsidi BBM, Dilema Beban APBN dan Kebijakan Hedging BBM

Setiap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi isu krusial bahkan menjadi bom waktu. Anggota Komisi XI DPR RI menyampaikan pandanganya.

Editor: Egy Moa
ISTIMEWA
Anggota Komisi XI DPR RI, Melchias Markus Mekeng. 

Hal ini harus segera dilakukan agar alasan klasik soal distribusi subsidi dan penyaluran subsidi BBM di Indonesia yang tidak tepat sasaran harus segera kita akhiri. Dalam catatan kami sejak tahun 2010 sampai sekarang, isu tentang penerima subsidi BBM yang tidak tepat sasaran masih selalu menjadi isu yang diangkat kepermukaan oleh para politisi, pengamat kebijakan publik dan lain-lain. Dan hingga kinipun dalil klasik ini masih menjadi perbincangan  seolah-olah bangsa yang besar ini tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan klasik ini.

Ketiga, perlu dikaji kembali secara lebih komprehenship dalam rangka penerapan hedging pada harga BBM  oleh pemerintah atau oleh BUMN (Pertamina). Hedging harga adalah transaksi derivatif berupa transaksi sistem lindung nilai yang mengamankan harga BBM yang akan dibeli pemerintah atau Pertamina dalam jangka waktu tertentu.

Hedging harga minyak mentah ini telah memiliki payung hukum melaui peraturan Bank Indonesia maupun Peraturan Menteri BUMN sejak tahun 2014, Dengan menerapkan hedging harga minyak mentah maka pemerintah tidak perlu menaikan harga BBM saat harga minyak dunia bergejolak.

Kebijakan ini memang memiliki kelemahan Ketika harga minyak mentah mengalami penurunan, namun jika melihat grafik perkembangan harga minya mentah dunia maka kecendrungan harga minyak mentah mengalami kenaikan lebih besar dari pada penurunannya.

Jika kita berbicara tentang APBN maka esensinya bukan sekedar hitungan untung rugi bagi pemerintah atau Pertamina, namun yang jauh lebih penting adalah upaya bersama untuk melindungi masyarakat kita dari dampak kenaikan harga minyak mentah dunia.

*Penulis: Anggota DPR RI Komisi XI, Mantan Ketua Komisi XI DPR RI dan Mantan Ketua Badan Anggaran DPR RI.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved