Senin, 27 April 2026

Berita Manggarai

Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth

orasi ilmiah ini dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng, saat membawakan Orasi Ilmiah pada momen wisuda tahun 2023 di Kampus UNIKA St. Paulus Ruteng beberapa hari yang lalu. Orasi ilmiah berjudul: Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Simaklah orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Orasi Ilmiah ini dibawakan pada momen wisuda tahun 2023 di Kampus UNIKA St. Paulus Ruteng beberapa hari yang lalu.

Orasi Ilmiah ini bertajuk; Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth.

Simak selengkapnya, orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng di bawah ini;

Baca juga: Unika Ruteng Gelar Aneka Kegiatan Menyambut Dies Natalis dan Wisuda

 

***

‘The stars down to earth’ merupakan gagasan kritis-konfrontatif tentang identitas dan entitas manusia modern yang dipopulerkan oleh Theodor W. Adorno, seorang filsuf dan sosiolog paradigmatis asal Jerman.

Identitas sebagai “the stars” adalah proyeksi popularitas yang tidak hanya menjadikan seseorang selalu merasa sentral dari antara orang-orang lain tetapi juga mengharuskan orang-orang lain untuk tertuju pada sentralitas dirinya.

The stars dilihat sebagai kesepakatan yang dianggap sempurna tentang cara-cara hidup yang mapan dengan fenomena kultus pada popularitas semu.

Adorno mengkritisi identitas the stars yang dianggap sebagai representasi kehidupan ideal dan menutupi kesadaran kritis. Oleh karena itu, Adorno melihat kehidupan tidak hanya berkutat pada kemapanan tetapi mesti keluar dari kemapanan dan menemukan pemahaman yang mendalam tentang realitas yang sebenarnya.

The stars down to earth adalah ungkapan stimulatif-provokatif sekaligus ajakan transformatif untuk terus bergerak kepada kenyataan-kenyataan periferik yang barangkali sering diabaikan dan bahkan dipolitisasi. Hal itu sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu yang menekankan transformasi habitus seseorang dari sentral menuju periferi atau atau dari hal-hal yang dianggap besar kepada sisi-sisi terkecil.

Seremoni wisuda merupakan rute transformatif yang tidak hanya menempatkan para sarjana dan ahli madya sebagai sentral tetapi juga merupakan aktor-aktor baru yang siap menciptakan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Esensi tradisi wisuda adalah memperingati pencapaian akademik wisudawan dan memberikan penghargaan atas usaha keras mereka dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Melalui penghargaan ini, status kesarjanaan dan ahli madya menjadi habitus modern yang senantiasa melekat dalam berbagai posisi dan eksistensi mereka.

Kesarjanaan adalah rumah keberadaan (the house of being) mereka. Melalui habitusnya, wisudawan menginternalisasi nilai-nilai dan praktik-praktik baik yang diklaim sebagai keyakinan akan kebenaran. Nilai-nilai tersebut diyakini sebagai referensi primer yang terus dilakukan terus-menerus dalam membangun kehidupan bersama.

Dengan kata lain, praksis kehidupan wisudawan tidak bisa dilepaspisahkan dari habitus yang membentuk identitasnya. Habitus menggambarkan secara tendensius tindakan dan reaksi mereka dengan orang-orang yang mengitari mereka.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved