Senin, 27 April 2026

Berita Manggarai

Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth

orasi ilmiah ini dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng, saat membawakan Orasi Ilmiah pada momen wisuda tahun 2023 di Kampus UNIKA St. Paulus Ruteng beberapa hari yang lalu. Orasi ilmiah berjudul: Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth. 

Seremoni wisuda selalu menghadirkan apresiasi, motivasi, dan progresi. Universitas dan masyarakat mengapresiasi kerja keras wisudawan yang sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih gelar kesarjanaan dan ahli madya.

Ada yang memperoleh nilai “cum laude”, sangat memuaskan, dan memuaskan. Namun di sisi lain, kampus dan masyarakat juga menyematkan sejumlah motivasi di pundak para wisudawan.

Para wisudawan mesti mampu menjadi tulang punggung kemajuan dan peradaban, kesejahteraan, dan kebaikan bersama. Mereka mesti merealisasikan prestasi akademiknya.

Mereka adalah “the stars” yang berani keluar dari menara gading kemapanan intelektual dan sekaligus berani membumi, “down to earth”. “Down to earth” menjadi rapresentasi lain dari keberanian untuk melepas segala arogansi intelektual dan serentak bersikap inklusif pada potensi yang berbeda.

Inklusivitas tidak hanya menyangkut keterbukaan tetapi lebih dari itu; kesediaan membiarkan orang lain masuk ke dalam ranah kita dan memungkinkan kita untuk masuk ke dalam ranah orang lain.

Wisudawan adalah progresor-progresor baru; agen-agen perubahan dan kemajuan nyata yang membuat masyarakat Manggarai Raya menjadi lebih baik.

Di dalam benak masing-masing mereka terpampang sebuah progresi, ideal kemajuan nyata: bagaimana cara mereka untuk menjadikan Manggarai sebagai “the great Manggarai, for a better Manggarai”; Manggarai yang cerdas sumber daya manusianya melalui praksis pendidikan bermutu.

Manggarai yang manusia cerdasnya sangat mencintai kebudayaan dan warisan leluhur serentak terbuka terhadap kebhinekaan nasional dan global. Manggarai yang manusia cerdasnya terus menukik dalam berbagai perubahan positif seperti angin yang terus bergerak atau ombak yang selalu bergelora.

Mereka tidak cepat untuk berhenti atau lambat untuk bergerak. Mereka adalah generasi optimis yang menjadikan Manggarai Raya ini “bolek loke, tampang ranga” bukan “boke loke, rango ranga”.

Meraih prestasi “cum laude” dari masyarakat merupakan ukuran prestasi nyata. Wisudawan tidak bisa dilepaspisahkan dari eksistensi masyarakat yang terikat dengan aktivitas yang dilakukan secara spontan dan berulang-ulang, dan juga yang menginternalisasi nilai-nilai tertentu sebagai bagian dari kebenaran partikular.

Wisudawan dianggap terbaik kalau betul-betul mewujudkan keilmuannya dalam masyarakat dengan berpegang pada nilai-nilai transformatif, kolaboratif, dan berkarakter. Ketiga pilar ini akan berjumpa dengan konteks kehidupan masyarakat yang kompleks dan plural.

Kompleksitas dan pluralitas berangkat dari kondisi masyarakat yang sudah hidup dalam dinamisitas dan fleksibilitas. Apa yang terjadi akan selalu tidak sama pada waktu yang berbeda.

Oleh karena itu, habitus wisudawan adalah bagian dari transformasi yang dinamis. Hal itu relevan dengan konsep habitus. Meskipun habitus bertahan lama namun tidak berarti bersifat eternal atau tidak berarti tidak bisa berubah (unchangeable). Habitus bukanlah konsep yang statis karena ada dialektika relasi antara wisudawan dan realitas aktual yang terbuka terhadap perubahan-perubahan.

Perubahan tidak hanya berpijak pada situasi sekarang. Perubahan selalu berhubungan dengan masa lalu dan masa depan. Durabilitas dan transposibilitas memiliki tendensi kepada proyek masa lalu menuju masa sekarang dan memaknai masa kini menuju masa depan.

Para wisudawan adalah ada yang sadar, yang eksis dalam waktu, dan selalu memiliki pertanyaan akan kesadaran tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di sini, Bourdieu melihat habitus sebagai sejarah yang terikat karena disposisi yang terjadi pada saat sekarang memiliki basisnya pada pengalaman masa lalu.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved