Erupsi Gunung Lewotobi

1.767 Rumah Terdampak Abu Vulkanik Gunung Lewotobi di Flores Timur NTT, Ratusan Atap Rusak

Kerusakan materil akibat erupsi berkepanjangan Gunung Lewotobi laki-laki dialami ribuan warga sejumlah desa di Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang.

|
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Cristin Adal
TRIBUNFLORES.COM/PAUL KABELEN
ATAP RUSAK- Atap rumah milik Markus Derosari di Desa Klatanlo, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, sudah rusak akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA- Kerusakan materil akibat erupsi berkepanjangan Gunung Lewotobi laki-laki dialami ribuan warga di sejumlah desa di Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang.

Kerusakan umumnya atap rumah warga di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki seperti Desa Hokeng Jaya, Dulipali, Pululera, Klatanlo, Boru, Nawokote, Boru Kedang, Nileknoheng, serta wilayah lainnya yang radiusnya tak jauh dari gunung.

Data kerusakan sementara yang dihimpun, Senin, 19 Agustus 2024, terdapat 1.767 rumah warga yang dilanda abu hingga mulai rusak selama delapan bulan berjalan.

Angka sementara ini kemungkinan bertambah berkali-kali lipat lantaran baru tercatat di Desa Klatanlo, Hokeng Jaya, Pululera, Dulipali, dan Boru. Sementara tambahan data dari desa lainnya masih dalam proses.

 

Baca juga: 250 Personel Polres Ende Siap Amankan Misa Tahbisan Uskup Agung Ende

 

 

Rinciannya, Desa Hokeng Jaya dengan jumlah penduduk 1.570 jiwa menempati 326 unit rumah, Desa Dulipali 618 jiwa menempati 182 rumah, Desa Pululera 1.530 jiwa menempati 337 rumah, Desa Klatanlo 1.129 jiwa menempati 237 rumah, dan Desa Boru 2.819 jiwa menempati 685 rumah.

Rata-rata ukuran rumah di lima desa ini adalah 9x6 meter. Jika kalkukasinya satu unit rumah membutuhkan 70 lembar seng dan dikali 1.767 rumah, maka perkiraan kebutuhan mencapai 123.690 lembar seng.

Kepala Desa Klatanlo, Petrus Muda Kurang, menyebutkan pihaknya mulai turun ke rumah warga untuk melakukan pendataan sejak bulan Juni 2024 atau beberapa bulan usai warga kembali dari lokasi pengungsian.

"Kita sudah informasikan secara lisan dan data dari Klatanlo sudah kirim ke Camat," katanya.

 

Baca juga: 8 Bulan Erupsi, Atap Ratusan Rumah Warga di Lereng Gunung Lewotobi Rusak

 

Dia mengimbau warganya agar jangan dulu menganti atap yang baru lantaran Gunung Lewotobi Laki-laki masih erupsi dengan status Level III (Siaga).

"Ada yang sudah ganti, tapi ini kan sia-sia, abu masih turun. Ganti baru, tidak lama rusak lagi, tunggu sampai keadaan pulih dulu," katanya.

Warga Desa Klatanlo, Markus Derosari (32), memandu POS-KUPANG untuk melihat kondisi kerusakan di rumahnya. Sedikitnya 30 lembar seng sudah bocor, paling parah pada bagian dapur.

"Dapur sudah pindah ke samping rumah. Atap semua bocor, saat musim hujan kami pasti kewalahan," tutur Markus.

Deros mengaku bertahan dengan kondisi yang ada lantaran kebutuhan ekonomi dia bersama istri dan anak sulit dipenuhi selama bencana erupsi. Dia berharap ada bantuan bagi rumah warga yang rusak.

"Semoga setelah bencana, ada satu atau dua lembar seng bantuan untuk kami. Paling tidak mengurangi sedikit beban kami untuk beli atap yang baru," harapnya.

Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, dalam laporan harian mencatat erupsi mencapai empat bahkan tujuh kali. Terbaru, Senin, 19 Agustus 2024, letusan memuntahkan abu setinggi 600 meter di atas puncak gunung.

Erupsi 600 meter dari gunung yang memiliki tinggi 1.584 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini condong ke arah barat.

"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu condong ke arah barat," demikian laporan PGA Lewotobi pukul 12.15 Wita.

 

Berita TribunFlores.com Lainnya di Google News

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved