Kamis, 9 April 2026

Berita NTT

WALHI Sebut NTT Harus Dibuat Miskin Agar Terus Dijarah

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut NTT harus terus dibuat miskin agar terus dijarah. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto WALHI Sebut NTT Harus Dibuat Miskin Agar Terus Dijarah
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI 
DISKUSI - Suasana diskusi yang diselenggarakan Kader Hijau Muhamadiyah bertema Ta'awun untuk Keadilan Ekologi di Hotel Greenia Kota Kupang, Selasa 3 Desember 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG  - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut NTT harus terus dibuat miskin agar terus dijarah. 

Direktur WALHI NTT Umbu Wulang Tanaamhu Paranggi menjelaskan, dalam data BKPN total investasi termasuk pariwisata yang eksratif ada 427. Dari total itu ada dua ratusan itu merupakan investasi asing salah satunya Australia. 

"Dengan konteks karst, kita masih ingat proyek batu gamping di Manggarai. Salah satu perusahaan yang eksis yakni di Fatuleu," katanya, dalam diskusi bersama Kader Hijau Muhamadiyah di Hotel Greenia Kota Kupang, Selasa 3 Desember 2024.

Umbu Wulang mengatakan, saat ini, modus yang digunakan adalah mendorong pemilik lahan setempat untuk menjadi pemegang saham. Umbu Wulang mengatakan, pasca keputusan terkait dengan Flores sebagai daerah proyek geothermal. 

Baca juga: Walhi NTT Ajak Mapala Universitas Nusa Nipa Terlibat dalam Gerakan Perlindungan Lingkungan Hidup

 

Banyak sekali praktik prostitusi yang sering terjadi pada kawasan pengembangan. Seringkali perempuan lokal menjadi korban praktik itu. Umbu Wulang mengatakan, prakti pasca izin geothermal itu menetapkan NTT keluar dari kemiskinan. 

NTT, kata dia, harus dirancang agar terus mengalami keterpurukan. Dari citra itu, maka provinsi kepulauan itu terus dikeruk dengan alasan mewujudkan kesejahteraan. 

"NTT harus dibuat miskin sebagai alasan untuk dijarah," kata dia dalam kegiatan bertema, Ta'awun untuk keadilan ekologi. 

Dia mengatakan, pembiayaan politik ikut berkontribusi dalam upaya mengeruk berbagi potensi sumber daya alam yang ada di NTT. 

Umbu Wulang mengatakan, tanah ulayat seringkali menjadi senjata perusahaan karena berbasis pada kepemilikan tokoh. Kondisi itu pasca pendudukan Belanda yang dikenal dengan nama Swapraja. 

Seperti pengembangan perusahaan gula di pulau Sumba, yang menggaet anak-anak dari tokoh setempat. 

Baca juga: Lima Pengungsi Lewotobi Meninggal, Diduga Akibat Penyakit Bawaan

Negara itu mengkoktasi anak-anak dari tokoh yang ada. Dia bilang itu merupakan sangat kompleks persoalan itu. 

Umbu Wulang mengatakan, semua proyek energi terbarukan yang sifatnya bukan investasi dan menyentuh masyarakat memang dibuat gagal. Karena itu tidak menguntungkan investasi. Berbeda dengan geothermal yang menguntungkan investasi. 

Dalam targetnya untuk energi baru terbarukan itu hingga tahun 2025. Namun, hingga saat ini masih berada di level terendah untuk penggunaan energi baru terbarukan. 

Disamping, kata dia, bencana alam yang terjadi juga sering menjadi pintu masuk dalam menggaet potensi yang di daerah setempat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved