Senin, 27 April 2026

Hardiknas 2025 di Sikka

RUMAH KITA, SEKOLAH KITA DI NTT ?

Padahal pendidikan yang paling pertama dan utama itu terjadi di rumah  dan  di lingkungan tempat tinggal  kita. Permasalahannya

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto RUMAH KITA, SEKOLAH KITA DI NTT ?
TRIBUNFLORES.COM/HO-TRIS
POSE - Rektor Universitas Nusa Nipa, Dr. Jonas K.G.D.Gobang, S.Fil., M.A. 

Sebuah Catatan Kritis Menyambut Hari Pendidikan Nasional Tahun 2025

Oleh : Jonas KGD Gobang, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Nipa

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Domus propria, domus optima, adagium Latin ini artinya rumah sendiri adalah rumah yang paling baik. Rumah adalah tempat yang utama dan pertama seorang mengalami kehangatan, perlindungan dan kegembiraan. Rumah menjadi fundasi yang pertama dan terpenting dalam menyiapkan suatu generasi. 

Tumbuh kembang suatu generasi berawal dari rumah. Rumah menjadi sekolah pertama dan utama dalam menyiapkan generasi penerus yang memiliki berbagai keutamaan dan kebaikan sebagai bekal hidup di masa depan. 

Sebuah generasi mulai terbentuk dan terdidik dari sekolahnya yang pertama dan utama yakni di rumah. Di rumah ada ayah, ibu, kakak, adik dan keluarga lainnya. Semua anggota keluarga mempunyai fungsi dan perannya masing-masing sesuai dengan posisi atau kedudukannya.

Fenomena yang terjadi di Indonesia termasuk juga di wilayah Provinsi NTT adalah banyak pihak yang menyangka bahwa pendidikan itu hanya terjadi di sekolah formal saja.  

 

Baca juga: Universitas Nusa Nipa Jalin Silaturahmi dengan Masyarakat Desa Kloangpopot, Sikka 

 

 

Padahal pendidikan yang paling pertama dan utama itu terjadi di rumah  dan  di lingkungan tempat tinggal  kita. Permasalahannya adalah  apakah  rumah dan lingkungan tempat tinggal itu sudah layak menjadi “sekolah” pertama dan utama yang baik bagi anak-anak, generasi penerus cita-cita bangsa?  Pendidikan di rumah bahkan menjadi fundasi paling penting.  

Kekeliruan dalam melaksanakan pendidikan di rumah yang dilakukan orangtua, akan menimbulkan berbagai efek domino sebagai turunan dari sekian banyak masalah di lingkungan masyarakat dan bangsa.  

Orang tua mestinya tidak  mengabaikan peran dan fungsinya sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Berbagai persoalan hidup hendaknya tidak menjadi alasan yang dipakai untuk mengabaikan pendidikan bagi anak. Pendidikan pertama dan utama yang ramah anak seyogyanya dilakukan oleh kedua orang tua terhadap anak dan bukannya mendelegasikan peran tersebut kepada para pembantu atau asisten rumah tangga.  
 
Pendidikan ramah anak yang diperankan oleh orang tua tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap tumbuh kembang anak. Tugas ini mungkin dapat didelegasikan kepada para pembantu atau asisten rumah tangga yang terlatih secara profesional. 

Namun apakah anak secara psikologis mampu merasakan sentuhan keramahan yang paripurna ketimbang oleh orang tuanya sendiri ?  Jawabannya bisa saja, jika asisten rumah tangga yang direkrut dengan cara yang benar dan benar-benar menghasilkan asisten rumah tangga yang mampu memberikan pendidikan ramah anak.  

Bisa juga jika orang melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan anaknya dan pendidikan anak yang dilakukan oleh asisten rumah tangganya.  

Tapi, kenyataannya, lebih banyak orangtua yang asal dalam merekrut asisten rumah tangga dengan kriteria bayaran murah. Di sisi lain, pengawasan tak pernah dilakukan.  Sehingga anak-anak kita menjalani hari-harinya dengan pendidikan yang tak ramah anak oleh asisten rumah tangganya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved