Nelayan Rote Ditangkap

DPRD NTT Harap Nelayan Rote yang Ditahan di Australia Bisa Segera Dideportasi

Anggota DPRD NTT Yohanes Rumat berharap enam nelayan asal Kabupaten Rote Ndao yang ditahan otoritas keamanan Australia agar segera dilakukan deportasi

Editor: Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM /HO-IST
DPRD NTT - Anggota DPRD NTT Yohanes Rumat menanggapi enam nelayan asal Kabupaten Rote Ndao yang ditahan otoritas keamanan Australia.  

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG  -Anggota DPRD NTT Yohanes Rumat berharap enam nelayan asal Kabupaten Rote Ndao yang ditahan otoritas keamanan Australia agar segera dilakukan deportasi. 

Menurut dia, kejadian ini sudah sering terjadi. Meski begitu, ia menyebut bisa saja ada faktor kesengajaan hingga timbul penahanan oleh pihak keamanan Australia. 

"Ini bukan barang baru, sudah sering terjadi. Bisa saja nelayan terdampar, bisa saja men-dampar-kan diri. Kalau ada unsur kesengajaan maka hukum yang bergerak. Kalau gelombang, nelayan tidak paham, saya kira deportasi segera mungkin," ujarnya, Senin (2/6/2025). 

Baca juga: Enam Nelayan Rote Ditangkap di Perairan Australia, Pemerintah Perlu Lakukan Langkah Diplomatik

 

 

Politikus PKB itu mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di Australia, diharapkan untuk bisa membantu pemulangan nelayan. Sebaliknya, bila nelayan itu dengan sengaja melewati batas negara maka perlu dilakukan tindakan agar ada efek jera. 

Di samping itu, Rumat meminta Pemerintah Provinsi maupun para pihak agar intensif melakukan edukasi kepada masyarakat. Sejauh ini, menurut dia, jarang sekali ada laporan dari instansi terkait terhadap pelanggaran lintas negara. 

Rumat mendorong ada pengetatan oleh aparat keamanan untuk memantau area batas negara di wilayah perairan. Sebab, bila tidak dilakukan maka kejadian serupa terus berlanjut. 

"Patut diduga, jangan sampai ada klasik dan ada pembiaran. Kami DPRD melihat patut diduga, yang mungkin menguntungkan nelayan, itu dugaan," katanya. 

Rumat berkata, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran. Jangan sampai, kata dia, pelanggaran itu dilakukan secara sengaja. Ia khawatir jika ada pembiaran justru masalah lain seperti penyeludupan manusia. 

Untuk itu, Rumat meminta nelayan maupun pihak keamanan dan pemerintah untuk memperhatikan peristiwa ini. Dia tidak mau, ada tudingan tidak elok kalau masalah semacam ini terus terjadi. 

"Kalau faktor alam, angin, tidak tahu baca peta, GPS okelah. Tapi nelayan yang biasa mencari ikan di perbatasan itu biasanya mengetahui itu," katanya.  (fan) 

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved