Senin, 27 April 2026

Kisah Pedagang Pasar di Ngada

Pasar Sunyi, Utang Mencekik : Potret Pilu Pedagang Pasar Bobou Bajawa Ngada

Sesekali, ia mengatur dagangannya agar tampak lebih menarik, meski tahu tak banyak yang datang untuk membeli barang dagangannya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Charles Abar | Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Pasar Sunyi, Utang Mencekik : Potret Pilu Pedagang Pasar Bobou Bajawa Ngada
TRIBUNFLORES/COM/CHARLES ABAR
PEDAGANG-Potret pedagang Pasar Bobou, Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT yang bertahan di tengah kondisi ekonomi yang lesu, Rabu 24 September 2025. 

Hanya segelintir pembeli yang datang. Lapak-lapak terlihat kosong, suara tawar-menawar nyaris tak terdengar dan aroma kehidupan pasar kini tergantikan oleh kekhawatiran  utang yang menumpuk, dagangan yang tak laku dan masa depan yang tak pasti.

Bertahan di Tengah Sepinya Pasar

Vero juga mengisahkan, kalau barang jualannya kini mulai sepi pembeli dan ia harus terus putar otak agar bisa membayar bunga koperasi harian.

“Kita tidak punya pilihan, untuk bayar sekolah anak, beli beras dan listri, semua dari koperasi. Bunganya besar tapi mau bagaimana,” kata Vero penuh pasrah.

Bagi Vero, ia memilih berjualan di Pasar Bobou berarti mempertahankan harapan kalau suatu hari pembeli akan kembali. 

Namun, kenyataannya berkata lain. Sejak pasar dibuka beberapa tahun lalu, animo masyarakat justru lebih tertarik ke pedagang yang berjualan liar di emperan toko dan pinggir jalan di pusat Kota Bajawa.

“Kami yang resmi justru ditinggalkan,” ujarnya lirih.

Pasar Bobou dibangun dengan harapan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. Namun, banyak pedagang menilai kebijakan relokasi tidak dibarengi dengan tindakan tegas terhadap pedagang liar yang tetap berjualan di tengah kota.

“Kalau semua diarahkan ke sini, pasar ini pasti hidup,” ujar Apolonaris Minggu, 56 tahun, pedagang lainnya di Pasar Bobou, Bajawa.

 “Tapi selama masih dibiarkan jualan di jalan kota, Pasar Bobou akan terus sepi,” papar Apolonaris.

Apolonaris mengaku dagangannya sering rusak karena tak laku. Barang-barang seperti sembako, sayuran, bahkan ikan, terbuang sebelum kembali modal. Kondisi ini membuatnya terjerat utang bank, lalu terpaksa berpaling ke koperasi harian untuk menambal kebutuhan sehari-hari.

Muhamad Ali, penjual ikan basah, mengenang masa pandemi COVID-19 sebagai waktu yang “lebih baik” dibanding sekarang. Saat itu, ada larangan jualan liar dan masyarakat mau datang ke pasar.

“Sekarang malah lebih parah dari saat corona. Paling banter dua orang beli ikan satu hari,” ujarnya.

Ikan yang tak laku dijual murah atau jadi makanan ternak. Ali pun mengaku kehilangan modal dan terpaksa berutang untuk bertahan.

Lesunya aktivitas di Pasar Bobou bukan sekadar soal tempat. Ini adalah potret kegagalan kebijakan tanpa eksekusi. Ketika pedagang resmi ditelantarkan dan pelanggar dibiarkan maka ekonomi rakyat kecil yang menjadi korban.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved