Kisah Pedagang Pasar di Ngada
Pasar Sunyi, Utang Mencekik : Potret Pilu Pedagang Pasar Bobou Bajawa Ngada
Sesekali, ia mengatur dagangannya agar tampak lebih menarik, meski tahu tak banyak yang datang untuk membeli barang dagangannya.
Penulis: Charles Abar | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pedagang-Pasar-Bobou-Bajawa-Ngada.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM,BAJAWA-Di bawah langit yang sore itu masih cerah, Rabu, 24 September 2025 sekira pukul 16.00 wita di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, Vero Moi duduk termenung di sudut lapak sayurnya di Pasar Bobou, Kelurahan Faobata, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Di hadapannya, ada aneka jualan seperti bawang merah, tomat dan tumpukan cabai.
Sesekali, ia mengatur dagangannya agar tampak lebih menarik, meski tahu tak banyak yang datang untuk membeli.
“Dulu bisa bawa pulang 400 ribu per- hari,” Sekarang, kalau dapat 100 ribu saja sudah syukur,” katanya dengan pelan.
Vero bukan satu-satunya. Di pasar yang dulu disebut-sebut sebagai “jantung ekonomi Ngada”, kini denyutnya nyaris tak terdengar.
Baca juga: Daftar Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Alok Maumere, Sayuran, Buah-buahan dan Bumbu