Stunting di NTT
NTT Kejar Target Turunkan Stunting: Aksi Lebih Spesifik, Kolaboratif, dan Berbasis Data Lapangan”
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting kini memasuki fase kerja yang lebih spesifik,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pemberian-Makanan-Tambahan-PMT-anak-stunting-di-Desa-Teka-Iku.jpg)
Perubahan intervensi juga menyoroti perlunya gerakan masyarakat yang berkelanjutan. Intervensi makan dari kesehatan hanya berlangsung 14, 28, atau 56 hari setelah itu harus dilanjutkan dengan dukungan keluarga, tokoh agama, CSR, hingga pelaku usaha.
“Stunting tidak bisa selesai hanya dengan program pemerintah. Harus ada gerakan bersama. Masyarakat, gereja, lembaga sosial, pelaku usaha semua harus terlibat,” ujar Ruth Diana Laiskodat.
Ia juga menyoroti kendala klasik air bersih yang minim, pola makan yang belum tepat, serta rendahnya kepedulian orang tua untuk menimbang anak secara rutin.
Air bersih menjadi masalah paling dominan karena berpengaruh langsung pada higienitas. Makanan bergizi yang diberikan anak sering tidak berdampak maksimal karena mereka kembali sakit akibat sanitasi buruk.
Selain itu, kebiasaan memberikan jajanan sebelum makan juga menjadi pemicu buruknya asupan gizi.
“Yang benar itu makan dulu, baru jajan. Harus lima kali makan sehari. Ini berlaku untuk semua, bukan hanya di desa di kota pun banyak yang salah pola,” ungkapnya.
Ruth Diana Laiskodat kembali menekankan pentingnya 1000 HPK sebagai fondasi kesehatan generasi masa depan. Anak stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan otak, sulit belajar, hingga lebih rentan penyakit tidak menular seperti diabetes sejak usia muda.
“Kalau sudah stunting, penanganannya membutuhkan dokter spesialis anak. Jadi pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih efektif,” ujarnya.
“Orang tua harus aktif menimbang. Guru harus pastikan remaja putri minum tablet tambah darah. Tokoh agama dan masyarakat perlu ikut menggerakkan.
Pemerintah menyediakan layanan, tapi hasilnya maksimal jika semua bekerja bersama,” ungkapnya.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2045, angka stunting NTT harus turun di bawah 10 % setara 1 dari 10 anak.
Untuk menuju ke sana, maka perlu strategi terukur, intervensi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan. (Iar)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Oditur Ingatkan Para Terdakwa: Jujur dalam Sidang Lanjutan Kasus Kematian Prada Lucky |
|
|---|
| Enam Jam Lewotobi Laki-laki Alami 11 Gempa Tremor dan 6 Gempa Vulkanik Dalam |
|
|---|
| DPRD Flores Timur Tolak Rencana Pemerintah Daerah Pinjam Uang Bangun Jalan dan Irigasi |
|
|---|
| Renungan Hari Ini Kamis 27 November 2025, Setia Menanti Keselamatan dari Allah |
|
|---|