Senin, 27 April 2026

Opini Dosen Unika Ruteng

Implikatur Suara Agape Keuskupan Denpasar

Kehadiran media digital membawa kesadaran dan harapan baru bagi umat beriman. Media digital sebagai sarana pewartaan iman umat.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Implikatur Suara Agape Keuskupan Denpasar
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA RUTENG
Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng 

 

 

 

 

Realitas yang memberi kesaksian bahwa tidak sedikit juga kaum klerus yang masih memagang semangat Konsili Trente: menekankan pada pelayanan sakramental dan menomorduakan semangat Konsili Vatikan II. Padahal semangat Konsili Vaikan II mengajak Gereja dan kaum klerus untuk pertama-tama mewartakan, baru diikuti menguduskan dan menggembalakan. Tugas mewartakan menjadi yang pertama, seperti semangat Santu Paulus, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan (mewartakan) Injil” (1 Kor. 9:16). 

Pewartaan sebagai yang pertama dalam spiritualitas umat kristiani menjadi implikatur bahwa  hadirnya laman dan media-media sosial digital dalam ruang parokial maupun keuskupan menjadi keniscayaan. 

Namun, pertanyaannya apakah media, entah itu radio, TV, website, YouTube, Facebook, Instragram, TikTok sudah dimiliki oleh keuskupan dan paroki-paroki di seluruh Indonesia? Sangat disayangkan jika paroki maupun keuskupan belum memiliki laman website dan media-media sosial sebagai sarana pewartaan. Keuskupan dan paroki yang memiliki laman dan akum media sosial tetapi belum ditangani secara serius, tidak di-update, kadaluarsa, atau tak ada isnya sama sekali sangat disesalkan. 

Tuturan Bapa Uskup Silvester San, “ini mimpi yang menjadi kenyataan” dapat dipahami sebagai wujud implikatur bagi para pemimpin gereja, baik tingkat keuskupan dan paroki dalam lingkup KWI. Keuskupan Denpasar menanggapi perkembangan teknologi dan informasi ini dengan menghadirkan dan menggunakan media digital sebagai sarana pewartaan. Keuskupan Denpasar menyadari pentingnya media digital dalam mendukung karya pastoral dan sarana pemertahanan iman Gereja. 

Kenyataan hadirnya Suara Agape: Radio dan TV Streaming Keuskupan Denpasar memiliki implikasi mengajak keuskupan lain dan paroki-paroki untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pewartaan.  Media Suara Agape  membantu umat Kristiani dan seluruh masyarakat untuk medengar tentang agama, ekspresi spiritualitas, pembinaan dan pengajaran iman; dan lain sebagainya. Karena itu, keuskupan dan paroki-paroki yang masih dibayangi mimpi memiliki sarana pewartaan digital, sudah saatnya menghadirkan kenyataannya. 

Kandala yang dapat dialami oleh keuskupan maupun paroki mungkin kurangnya sumber daya manusia dan materi. Bagus kalau keuskupan maupun paroki menyediakan tenaga-tenaga khusus yang mengelola laman dan media sosial milik keuskupan dan paroki. Penyerahan tugas tersebut bukan hanya kepada seksi atau komisi komunikasi sosial saja. Kalau ada orang yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan laman dan media sosial, bagus kalau dipekerjakan, sekaligus diberi upah secara profesional. 

Jika Gereja ingin serius menanggapi perkembangan dan kemajuan teknologi zaman ini sebagai salah satu media pewartaan, bagus kalau atur dan dikelola secara serius. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa karya pewartaan memang butuh biaya. Dan langkah ini bisa menjadi kesempatan bagi Gereja Katolik membuka lapangan pekerjaan bagi umatnya. 

Gereja Katolik tidak akan jatuh miskin, jika mengalokasikan sebagain kecil dana untuk membiayai pewartaan berbasis teknologi ini. Persoalannya, kadang terletak pada kemauan pimpinan dan pengurtus dewan paroki. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Gereja Katolik akan selalu terlambat memanfaatkan laman dan media sosial digital sebagai sarana pewartaan. Yah, “Suara Agape” sudah, “suara kita” kapan?.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved