Senin, 27 April 2026

Opini Dosen Unika Ruteng

Aku yang Holic dalam Aku yang Holistik

Novel merupakan salah satu bentuk ekspresi paling intens dari seorang penulis atau penyair. Ia adalah

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Aku yang Holic dalam Aku yang Holistik
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/HO-Bernardus Tube Beding
Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng 

Oleh: Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Hakikat manusia sebagai makhluk total (holistik) itu keniscayaan; pasti yang membumi. Kehadirannya sebagai pribadi biologis, memiliki kemampuan berpikir, berinteraksi dengan dunia sekitar, pribadi penuh kesadaran, dan diri yang unik. Satu aspek yang penting, manusia memiliki potensi spiritual. 

Holistik pribadi manusia berlatar pada kesempurnaan dalam membangun peradaban; sikap memengaruhi; dan niat terus belajar serta mengembangkan diri.

Antara eksistensi manuisa dengan totalitas yang membumi, ada relasi dialektis yang menjembatani hakikat dan makna masing-masing. Hal ini yang tampak dalam prosa novel Aku karya Arcangela. 

Novel merupakan salah satu bentuk ekspresi paling intens dari seorang penulis atau penyair. Ia adalah karya seni sastra prosa yang menyatakan sesuatu secara langsung, sesuatu yang menyeberangi makna yang dapat dipikirkan oleh pengetahuan; sesuatu yang mengungkapkan mutu afektif tertentu yang bisa jadi tak mudah untuk diterjemahkan, namun dapat dialami secara jelas. 

 

Baca juga: Mahasiswa PBSI 2025 A Unika Santu Paulus Ruteng Rayakan Buku Aku Karya Arcangela

 

 

Novel Aku menghadirkan kehidupan yang dimaknai sebagai totalitas, terekspresi dalam narasi-narasi “realistis”. Tokoh aku mewakili manusia umumnya yang tak selesai mempertanyakan ‘kehadiran Tuhan dalam hidupnya” (Arcangela, 2025:v). 

Padahal Tuhan selalu ada dan hadir melalui diri mausia dan alam sekitarnya. Ini nyata, suatu kebenaran bahwa eksistensi “aku” sangat berarti dalam kebersamaan holistik. Hal ini seperti diungkapkan Heidegger, sein ist mit-sein, eksistensi manusia adalah eksistensi bersama. Kebersamaan dimaksud sebagai suatu yang eksistensial, yakni sifat yang terbentuk dalam struktur eksistensi manusia. Orang lain diterima sebagai sesama manusia, yang memiliki relasi kodrati dengan “aku”. Relasi eksistensial manusia tidak bisa tidak diberi arti dan bentuk juga oleh orang lain dan alam sekitar. 

Namun demikian, dalam novel ini tokoh aku direduksi dalam subjektivitas ke-aku-nya yang lain; yang sungguh kontradiktoris. Anggapan yang dikenakan orang lain (masyarakat) kepada individu aku jarang bertentangan secara hakiki dengan anggapan si indvidu itu terhadap dirinya sendiri. 

“Masih ada beberapa revisi yang perlu diperbaiki,” ucapnya dengan nada datar yang menusuk jantung” (Arcangela, 2025:4). Inilah sumber keresahan “aku” yang dipandang sebagai “binatang berakal budi”, yang tidak mudah dihapuskan olehnya. 
Padahal ada ilokutif holic yang sudah dibangun oleh aku sebelum bimbingan dimulai dengan harapan yang menggunung di dada: “Akankah hari ini dosenku menyetujui proposalku?” (Arcangela, 2025:2). Apalagi “tujuh kali … sudah tujuh kali aku bimbingan dengan beliau …” merupakan sikap ilokutif holic seorang aku yang dapat dimaknai sebagai suatu proses yang telah dijalankan tanpa henti (bdk. Makna “tujuh puluh kali tujuh kali” dalam Matius 18:21—22). 

Ternyata, proses tanpa henti itu berlabuh pada finis “belum disetujui lagi”. Sehingga Arcangela berani bernada kesal, “… Rasanya seperti seluruh alam semesta bersekongkol melawanku, seolah takdir sedang bermain-main dengan hidupku” (Arcangela, 2025:5).

Tokoh aku dalam Aku juga manusia yang mewakili dunia di luar dirinya, yakni masyarakat yang memiliki anggapan lain dengan apa yang diketahui oleh si “aku” mengenai dirinya sendiri. “…Tidak ada gunanya menangisi revisi ini selamanya. Hidup harus terus berjalan, meski dengan langkah yang tertatif.” … “Apakah kau percaya pada Bunda Maria?” (Arcangela, 2025:6—7). Entah dalam kalimat si aku menyadari adanya anggapan, penilaian orang lain yang berbeda secara hakiki dengan apa yang dimilikinya. 

Ke-diri-sendiri-an “aku” kemudian tidak bisa diaktualisasi sekejap sebagaimana harapan orang lain. “Aku” yang ada adalah hasil takaran, penilaian aku yang lain. Namun, di balik keresahan itu, “aku” justru mengajarkan bahwa suatu penampilan lahiriah bukan mutlak menjadi ukuran untuk seseorang. Manusia perlu juga dibaca dalam kacamata metafisis, untuk menangkap apa yang melampaui penampilan lahiriah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved