Opini BPS Manggarai Barat
SE2026, MENGURAI MASALAH DATA PARIWISATA
Terletak di Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/BPS-Manggarai-Barat-Flores-NTT.jpg)
Ringkasan Berita:Terletak di Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui perpres Nomor 50 tahun 2011, Pengaturan Destinasi Pariwisata Prioritas ini tidak diatur dalam satu Peraturan Presiden khusus
Oleh: Abdul Rauf, S.Si
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Manggarai Barat NTT
TRIBUN FLORES.COM, LABUAN BAJO- Terletak di Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui perpres Nomor 50 tahun 2011, Pengaturan Destinasi Pariwisata Prioritas ini tidak diatur dalam satu Peraturan Presiden khusus atau tunggal, melainkan melalui serangkaian Perpres tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (RIDPN) untuk masing-masing kawasan strategis. Dasar hukum awal penetapannya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) 2010 – 2025. penetapan ini bukan hanya sekadar pengakuan tentang eksotisnya, tetapi juga sebuah komitmen untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas destinasi.
Disadari bahwa Indonesia sudah terkenal dengan pantai-pantainya yang terdapat di Bali dan Lombok, namun dengan latar belakang alam yang memukau, termasuk keindahan laut dan keanekaragaman hayati, Labuan Bajo telah menjadi salah satu lokasi paling diminati oleh wisatawan, baik domestik maupun internasional. Peningkatan kualitas dan kapasitas destinasi seperti Labuan Bajo diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman yang dinikmati oleh pengunjung.
Hal ini penting, mengingat kontribusi signifikan dari sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional, terutama dalam menciptakan peluang kerja, menghasilkan pendapatan, dan mempromosikan keanekaragaman budaya dan alam Indonesia.
Kualaitas pengalaman berkaitan erat dengan lama menetap (long stay) wisatawan di labuan bajo, Suatu asumsi mengatakan bahwa semakin lama wisatawan tinggal di suatu wilayah maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan oleh wisatawan tersebut. Salah satu pendekatan untuk memperkirakan lamanya tinggal wisatawan saat ini yang bisa digunakan adalah rata- rata lama menginap pada jasa akomodasi hotel. Baik itu rata-rata lama menginap tamu Mancanegara maupun rata-rata lama menginap tamu Domestik.
Baca juga: Kerusakan Fasilitas di Tempat Wisata Cunca Wulang Labuan Bajo Sudah Dikeluhkan
Mengingat Sektor pariwisata di Indonesia telah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara dan juga daerah, maka Upaya peningkatan kualitas kunjungan wisatawan labuan bajo diharapkan tidak hanya menargetkan lama menetap, namu Upaya meningkatkan jumlah wisatawan berkunjung ke Labuan bajo harus terus dilakukan. Oleh karena itu, pengembangan infrastruktur yang komprehensif dianggap penting untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata di Labuan Bajo.
Salah satu indikator pertumbuhan pariwisata adalah jumlah kunjungan wisatawan, sedangkan salah satu indikator jumlah kunjungan wisatawan bisa diukur dari Tingkat penghunian Kamar (TPK) Hotel. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat aktifitas perhotelan di suatu wilayah, dengan besaran TPK akan terlihat sejauh mana tingkat penggunaan kamar yang tersedia dalam kurun waktu tertentu pada suatu wilayah. TPK menunjukkan perbandingan malam kamar terjual (terpakai) dengan malam kamar tersedia. Jika TPK membesar dan cenderung mendekati 100 persen, itu artinya sebagian besar atau hampir seluruh kamar tersedia laku terjual.
Sebaliknya apabila TPK mengecil sampai mendekati 0 persen, pertanda sebagian besar atau hampir seluruh kamar tersedia tidak laku terjual. Secara umum TPK dipengaruhi oleh fasilitas dan pelayanan yang tersedia pada hotel/akomodasi tersebut.
Semakin tinggi tingkat penghunian kamar hotel di suatu wilayah maka semakin baik kondisi perhotelan di wilayah tersebut, begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat penghunian kamarnya maka disinyalir semakin kurang baik kondisi perhotelan di wilayah tersebut. Untuk kondisi saat ini, tinggi rendahnya TPK di suatu wilayah, tidak semata dipengaruhi oleh fasilitas dan pelayanan yang tersedia pada hotel/akomodasi tersebut, namun ada banyak faktor, bisa karena kondisi cuaca yang menghambat akses ke wilayah tersebut dan juga tren para wisatan yang bergeser memanfaatkan fasilitas berwisata yang lebih simple seperti Wisata live on board.
Jika merujuk data Tingkat Penghunian kamar (TPK) pada 3 tahun terakhir, maka akan kita lihat pada tahun 2024 secara keseluruhan usaha akomodasi/hotel di Kabupaten Manggarai Barat memiliki tingkat penghunian kamar (TPK) sebesar 42,47 persen, hal ini berarti bahwa rata-rata dari seluruh kamar hotel yang tersedia di Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2024 terpakai hanya sebanyak 42.47 persen dari total kamar yang tersedia, naik 1.82 persen dari tahun 2023 dengan keseluruhan TPK sebesar 40.65 persen.
Menariknya, jika kita melihat tingkat penghunian kamar (TPK) di tahun 2025, secara keseluruhan sebesar 42,3 mengalami penurunan sebesar 0.17 persen dari tahun 2024. Jika ditelisik lebih dalam, penyumbang terbesar penurunan tingkat penghunian kamar ini bersumber dari Hotel Non Bintang. pada tahun 2023 TPK Hotel Non Bintang sebesar 30.53 persen naik 0,59 persen di tahun 2024 yakni sebesar 31,12 dan turun sebesar 3.84 persen di tahun 2025 yakni sebesar 27.28 persen.
| Renungan Harian Katolik Selasa 26 Mei 2026, Upah Mengikuti Kristus |
|
|---|
| Kerusakan Fasilitas di Tempat Wisata Cunca Wulang Labuan Bajo Sudah Dikeluhkan |
|
|---|
| BREAKING NEWS : Pemkab Manggarai Barat NTT Tutup Tempat Wisata Cunca Wulang |
|
|---|
| Polisi Amankan Kapal Phinisi KM Pasole di Labuan Bajo Terkait Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi |
|
|---|