Surat Gembala Uskup Ruteng

Surat Gembala Prapaskah dan Paskah 2022 Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat

Masa prapaskah adalah masa tobat, masa di mana kita perlu menegaskan lebih serius lagi komitmen kita untuk hidup dalam kasih,

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/ROBERT ROPO
Uskup Ruteng Mgr. Sipri Hormat saat bersama imam di Keuskupan Ruteng beberapa waktu lalu. 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Berikut ini adalah surat gembal prapaskah 2022 dari Uskup Ruteng, Mgr.Sipri Hormat.

"Berpuasa yang Kukehendaki ialah: Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman... membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar...dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian " (Yes 58:7).

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Rutengyang dikasihi Tuhan!

Dalam semangat sinodal yang diserukan oleh Paus Fransiskus sejak tahun lalu, Saya, Uskupmu, mengajak kita semua untuk terus bergandeng tangan berziarah bersama dalam masa prapaskah tahun 2022 ini.

Baca juga: Surat Gembala Uskup Atambua, Aksi Puasa Pemulihan Kehidupan

 

Masa prapaskah adalah masa tobat, masa di mana kita perlu menegaskan lebih serius lagi komitmen kita untuk hidup dalam kasih, "Omnia in Caritate” Lakukan segalanya dalam kasih (1 Kor, 16:14). Dalam ziarah tobat ini, secara tulus saya meminta kita untuk mendengar dengan hati bening warta indah nabi Yesaya di ataş. Seruan profetis Yesaya tersebut menggugat kita untuk tidak sekadar melaksanakan ritus-ritus suci dan kegiatan puasa selama masa tobat ini, tetapi lebih dari itü kita hendaknya lebih berani untuk mengamalkan praksis amal kasih dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari.


Ada tiga hal dasariah yang perlu kita lakukan dalam masa praspaskah ini, yaitu: puasa dan pantang, doa serta karya amal kasih. Ketiga-tiganya tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain. Hanya dalam kesatuan erat, praktik-praktik Kristiani tersebut memiliki maknanya yang sejati. Lebih dari itu, yang menjadi roh yang meresapi dan menggerakkan semuanya adalah semangat cinta kasih. Karena itü perkenankan saya untuk menguraikan ketiga hal tersebut dalam bingkai moto kegembalaan saya, "Omnia in Caritate” (I Kor, 16:14).


Pertama, praktik berpuasa dan pantang. Dalam masa Prapaskah kita perlu berpuasa. Puasa berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari untuk tujuan-tujuan rohani dan amal. Sejalan dengan itü kita didorong untuk berpantang, yakni tidak memakan daging atau jenis makanan yang disukai dalam waktu tertentu. Pantang ini tidak hanya berkaitan dengan makanan tetapi juga dari kebiasaan yang mengikat dan membelenggu diri seperti: pantang rokok, pantang kebiasaan belanja (shopping), pantang main hp, dil. Puasa dan pantang pada gilirannya tidak hanya terikat dengan hal-hal materiil. Santo Basilius dari Kaisarea berkata: "Marilah kita berpuasa yang berkenan dan sangat berkenan kepada Tuhan.

Baca juga: Surat Gembala Uskup Maumere, Menuju Komunitas Perjuangan, Merawat Kehidupan

Puasa yang benar adalah menjauhkan diri dari kejahatan, pengendalian lidah, menahan amarah, menjauhi hawa nafsu, fitnah, duşta, dan sumpah palsu. Keistimewaan ini adalah puasa sejati,” Jadi puasa dan pantang berkaitan dengan pedagogi diri, pendidikan dan latihan diri untuk semakin menjadi pribadi yang berkualitas. Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk tidak terikat dengan hal-hal materiil dan fana, dan serentak dituntun untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati dalam hal-hal rohani dan langgeng.

Terlebih dalam dunia dewasa ini yang semakin diresapi oleh semangat materialistis, kiranya masa puasa menjadi momentum berharga bagi kita untuk berjumpa dengan Allah dan terpikat oleh pesona kasihNya yang lembut dan abadi.

Halaman
123
    Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved