Berita Lembata

Thomas Ataladjar Terbitkan Buku, Lembata; Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya

Sejarawan Thomas B Ataladjar merampungkan penulisan buku sejarah peradaban manusia di Pulau Lembata setebal 552 halaman.

Editor: Egy Moa
DOK.THOMAS ATALADJAR
Thomas B Ataladjar (kiri) dan Anggota DPR RI, Haji Sulaeman Hamzah berpose bersama dalam sebuah acara di Jakarta. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ricko Wawo

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA- Sejarawan Thomas B Ataladjar  merampungkan penulisan buku sejarah peradaban manusia di Pulau Lembata setebal  552 halaman.

Buku berjudul, ‘Lembata; Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya’ ini sudah dicetak oleh Penerbit Ikan Paus Lamalera sebanyak seribu eksemplar. Direncanakan buku ini dilaunching k  pada peringatan otonomi daerah Kabupaten Lembata, 12 Oktober 2022  di Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan.

Kepada TribunFlores.com, sejarawan kelahiran Atadei Lembata yang sekarang berdomisili di Jakarta ini mengungkapkan proses penelitian, pengumpulan data dan wawancara untuk kepentingan penulisan buku ini dilakukan selama hampir 30 tahun, sejak dia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis.

Thomas mengaku sejumlah narasumber yang dia wawancarai, sekarang ada yang sudah meninggal dunia, dan dia bersyukur sejumlah dokumen sejarah telah berhasil dia kumpulkan.

Baca juga: Thomas B Ataladjar, 30 Tahun Meneliti Jejak Peradaban Manusia di Lembata

“Saya menulis buku ini dalam diam,” ungkap salah satu penulis di Ensiklopedia Nasional Indonesia (ENI) tahun 1988-1994 ini.

Alasannya, lanjut Thomas, dia ingin buku sejarah Lembata ini bebas dari pelbagai  kepentingan apa saja dan jauh dari unsur subjektivitas. Oleh sebab itu, Thomas menjamin objektivitas penulisan sejarah tanah kelahirannya itu.

Tanpa menyampaikan maksudnya kepada semua orang, beberapa kali Thomas pun datang sendiri ke Lembata untuk kepentingan penelitian dan wawancara. Dia mengikuti sejumlah ritual adat di Lembata, seperti misalnya ritual adat pesta kacang di kampung adat Lewohala, Ile Ape. Dia juga berkesempatan melacak jejak-jejak kebudayaan yang ada di Lembata termasuk situs-situs pra sejarah.

Barulah pada tahun 2020, penulis buku Sejarah Jakarta ini membeberkan ke publik bahwa dirinya akan menerbitkan buku tentang sejarah panjang peradaban di Lembata yang sudah dia siapkan selama bertahun-tahun.

Baca juga: Telat Kunjungan Pertama dan Persalinan di Rumah, Masalah K1 di Puskesmas Loang

Alumnus Seminari San Dominggo Hokeng ini menganggap penulisan buku sejarah Lembata tersebut sebagai wujud konkret pengabdiannya kepada tanah dan seluruh masyarakat Lembata.

Thomas menyampaikan terima kasih berlimpah kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penulisan buku sejarah Lembata.

“Bahwa terbit hingga akan diluncurkannya buku Sejarah Lembata ini tidak terlepas dari dukungan penuh tokoh pejuang otonomi Lembata yang juga Anggota DPR RI Haji Sulaeman L. Hamzah,” pesan Thomas.

Isi Ringkas

Buku 'Lembata: Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya' menguraikan sejarah peradaban di Lembata sebanyak 25 bab dengan tebal buku 552 halaman.

Baca juga: DPRD Lembata Harap Kekerasan Terhadap Pekerja Media Dihentikan

Buku ini coba mengendus dan menelusuri jejak tapak Sejarah Lembata dari sejumlah tonggak dan serpihan sejarah yang melekat pada bumi Lembata, yang pernah ikut menghiasi titian perjalanannya sejak zaman nirleka (pra-aksara) yang sekaligus melatarbelakangi topik utamanya Sejarah Perjuangan Rakyat Lembata dalam memperjuangkan otonominya, hingga mencapai otonominya. Satu hal yang tidak mungkin dibantah adalah bahwa Lembata menjadi kabupaten, itu merupakan salah satu poin dari rentang perjalanan sejarah Lembata. Artinya, tidak bisa lepas dari periodisasi sejarahnya sebelum menjadi kabupaten.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved