Berita NTT

Serapan APBD Provinsi NTT Disebut Rendah, DPRD NTT: Harus tambah

"Mulai 2024 nanti kita mulai membayar pokok dan bunga pinjaman sebesar 6,19 persen atau sekitar Rp 230 miliar pertahun," pintanya.

Editor: Gordy Donovan
DOK.TRIBUN
ILUSTRASI-- Ilustrasi uang. DPRD NTT menyoroti rendahnya serapan APBD NTT. 

"Memang kita belum capai 50 persen pada semester pertama karena masih ada paket pekerjaan ruas jalan yang belum selesai. Kita berharap Agustus ini sudah 60-70 persen," katanya, Rabu 13 Juli 2022.

Mantan penjabat Bupati Belu itu menyebut pencapaian penyerapan APBD NTT tersebut sama jika dibandingkan dengan realisasi APBD tahun 2021. Pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk mendorong untuk peningkatan penyerapan belanja modal agar terealisasi sehingga bisa mencapai target yang ingin dicapai.

Sedangkan untuk pendapatan diharapkan penyerapanya bisa melebihi pencapaian tahun 2021 yakni 76 persen. "Dengan kondisi pandemi yang sudah melandai ini, pendapatan bisa mencapai 80 hingga 90 persen dari pajak dan retribusi," tambah dia.

Menurutnya, kendala covid-19 masih sangat mempengaruhi sebab, masih banyak masyarakat yang belum membayar pajak serta kegiatan OPD belum berlangsung maksimal. Namun ia tetap optimis masyarakat akan sadar membayar pajak serta kegiatan pemerintahan terus berlangsung maka target penyerapan APBD segera terpenuhi.

"Biasanya pendapatan dan belanja naik di bulan Juli-Agustus karena untuk pendidikan bagi masyarakat sudah selesai," tandasnya.

Terhadap presentasi penyerapan, Zakarias menyebut jika dirupiahkan dari penyerapan pendapatan 42,15 persen kurang lebih Rp 600 miliar, sedangkan belanja modal kurang lebih Rp 400 miliar dari presentasi 36,12 persen.

"Total anggaran APBD 2022 kurang lebih 5,4 Triliun, sehingga kita terus memacu penyerapannya," sebutnya.

Zakarias menambahkan, terkait pinjaman daerah sudah dilakukan pencairan tahap kedua yakni sekitar Rp 700 miliar dari total pinjaman 1,3 Triliun. Sisa pencairan, baru bisa dicairkan pada bulan November mendatang.

"Realisasi penyerapan pinjaman itu sudah mencapai 78 persen dari dicairkan Rp 700 miliar yang sudah didapat dan ini terus bergerak sehingga diharapkan pada November mendatang realisasinya sudah mencapai 100 persen sehingga bisa memproses pencairan terakhir," katanya.

Terkait pengembalian pinjaman tersebut, ia mengaku pada tahun 2022 dan 2023 pengembalian pinjaman hanya bunga pinjaman saja sedangkan tahun 2024 baru mengembalikan pokok dan bunga pinjaman.

"Mulai 2024 nanti kita mulai membayar pokok dan bunga pinjaman sebesar 6,19 persen atau sekitar Rp 230 miliar pertahun," pintanya.

Untuk diketahui, dana pinjaman dari PT SMI itu diperuntukan untuk pembiayaan paket pekerjaan 76 ruas jalan, pembangunan 22 embung dan 17 SPAM air bersih di seluruh NTT. (Fan)


Berita NTT lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved