Warga NTT Korban KKB
Permintaan Tulus Hilarius, Ayah dari Korban KKB Asal NTT Kepada Pemerintah Pusat
Duka masih menyelimuti sanak keluarga dari korban aksi brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, asal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Duka masih menyelimuti sanak keluarga dari korban aksi brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tiga warga asal NTT yang menjadi korban tragedi penembakan di Kampung Nanggolait, Kabupaten Nduga Papua itu, antara lain, Hubertus Goty (42) dan sepupunya, Yulius Watu (27). Keduanya berasal dari Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.
Satu korban lagi yakni Yohanes Rengkas (26), dari Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.
Hilarius Wuli, Ayah Yulius Watu, beberapa waktu lalu melalui live streaming halaman facebook, TRIBUNFLORES.COM, mengutarakan harapan dan permintaannya kepada pemerintah pusat, terkait dengan tragedi Nanggolait.
Baca juga: Air Mata Ibunda Kering di Depan Peti Yohanes Korban KKB Papua
Nampak, Hilarius memandang tragedi Nanggolait adalah tragedi kemanusiaan yang menggugah hati nurani.
Hilarius menyebut aksi KKB sudah memakan banyak korban dan putranya Yulius adalah salah satunya.
Hilarius berharap peristiwa yang sama tidak terjadi lagi pada yang lain. Hilarius ingin melihat Papua aman.
"Ini permintaan kami dari orangtua saya minta bantu pemerintah pusat, agar lebih jeli, bisa mengambil sikap, dan langkah -langkah yang lebih pasti sehingga Papua bisa aman seperti yang dulu," ujarnya.
Hilarius juga mengucap terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Nduga, Pemerintah Kabupaten Ngada yang telah berkoordinasi dengan baik untuk memulangkan jenazah Yulius.
Ucapan terima kasih juga Hilarius sampaikan kepada majikan Yulius di Papua, yang telah memerhatikan Yulius semasa hidup atau selama bekerja di Papua.
Baca juga: Hubertus Tewas di Tangan KKB, Natal Bersama Keluarga di Ngada Urung Terwujud
Mimpi Buruk
Sebelumnya diberitakan TRIBUNFLORES.COM, Hilarius Wuli mengalami mimpi buruk pada Jumat malam, 15 Juli 2022, sebelum keesokan harinya, dia mendapat kabar, putra sulungnya, Yulius Watu (27) tewas di tangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Nanggolait, Kabupaten Nduga, Papua.
Menurut Hilarius mimpi buruknya itu merupakan tanda bahwa akan ada kabar buruk. "Saya bermimpi melihat ular," kata Hilarius, kepada TRIBUNFLORES.COM, Senin 18 juli 2022, di rumah duka di Desa Ulubelu, Kabupaten Ngada.
Hilarius tidak menerangkan seperti apa jalan cerita mimpinya. Namun dia mengaku bahwa mimpi melihat ular itu, membuat hatinya sangat gelisah.
Kabar meninggalnya Yulius, membuat Hilarius merasa sangat terpukul. Bagi Hilarius, Yulius adalah sosok yang jujur, penyanyang dan taat.
Baca juga: Istri dan Anak Antar Jenazah Hubertus Korban KKB Papua ke Ngada
"Kalau dengan dua adik -adiknya, dari dulu dia tidak pernah cubit atau marah. Dia anak sulung, adiknya ada dua, kembar, perempuan," kata Hilarius menerangkan sosok Yulius.
Yulius sejak kecil, kata Hilarius, sangat dekat dengannya. Bahkan setelah tamat SMA, Yulius selalu ikut dengannya untuk bekerja, baik di kebun maupun di lokasi proyek. Itulah mengapa bagi Hilrius, putra sulungnya itu, dia anggap anak yang taat.
Yulius mengenyam pendidikan terakhir di bangku SMA yakni di SMA Katolik, Santo Thomas Aquinas, Mataloko, Ngada.
Yulius kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dan lebih memilih untuk merantau.
Pada tahun 2018, Yulius memutuskan untuk berangkat merantau ke Papua. Yulius diajak oleh sepupunya, Hubertus Goty (42) yang juga salah satu korban KKB, yang kala itu sudah lebih dulu berada di Papua.
Di sana dia kerja di toko, tapi karena dia bisa bawa mobil, dia juga sering antar -antar barang. Sejak berangkat dia belum pernah pulang, tapi komukasi dengan kami lancar," ujar Hilarius. (*)