Profil Biara di Flores
Biara Stigmata di Maumere, Flores: Profil Pendiri, Nama Biara, Latar Belakang, dan Motto Kongregasi
Pendiri Kongregasi Stigmata Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus, santo Gaspar Bertoni, dalam semangat untuk melayani Tuhan dan sesama terinspirasi oleh Inj
Maria dan Yosef dijadikan sebagai pelindung Kongregasi karena mereka dipilih secara personal oleh Allah demi keberlangsungan karya keselamatan Allah. Setiap anggota kongregasi diperingatkan untuk selelu menjalin hubugan yang intim dengan kedua memperlai tersuci ini. Hal ini juga ditegaskan oleh seorang rekan pastor yang adalah seorang anggota pemula terbentuknya kongregasi ini, pater G. Maria Marani. Dalam tulisannya ia menegaskan bahwa:
“Those who intend to become members of this Congregation must always keep in their minds the Blessed Virgin Mary and St. Joseph. From them, they should learnd love of poverty, dedication to prayer and meditation, prompt obedience even when it is difficult; together with love of God, to whose glory they must exclusively consecrate themselves and love of neighbor whose spiritual good they have to pursue even the cost of their own lives”.
Baca juga: Ketika Pemuda Islam Waiburak Adonara Hadang Mobil Biarawati Katolik untuk Bagi Takjil
Melalui santa Maria dan santo Yosef, semua anggota komunitas diwajibkan untuk menerima dan menghayati teladan hidup kedua pasangan tersuci ini. Maria dan Yosef menjadi orangtua dalam komunitas sekaligus. Setiap anggota belajar dari kedua pasangan tersuci ini dengan mengambil cara hidup dan tanggungjawanya terhadap panggilan Allah. Persembahan diri yang total kepada Allah dengan menekankan cara hidup sederhana. Hidup dalam komitmen serta cinta yang mendalam terhadap semua keberlangsungan dalam berlomunitas. Selalu bersyukur bersama dengan mempelai tersuci dalam situasi apapun dan bersedia menanggapi panggilan Allah dan memeliharanya.
Latar Belakang Nama Kongregasi
Pada masa revolusi Prancis situasi sosial dan politik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan Gereja. Gaspar Bertoni merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam memerangi revolusi tersebut demi menyelamatkan umat Allah. Ia menjadi seorang pastor muda yang punya antusias bekerja melawan pengaruh revolusi. Setelah terbentuknya komunitas yang beranggotakan tiga orang sebagai pemula yakni P. Gaspar Bertoni sebagai pendiri dibantu oleh seorang rekan pastor yang juga adalah seorang imam diosesan P. Maria Marani dan seorang bruder, bruder Paolo. Membentuk sebuah komunitas baru memiliki berbagai macam tantangan dan cobaan yang dihadapi. Namun, pater Gaspar Bertoni dan teman-temannya selalu menyerahkan seluruh karya dan usaha kepada Tuhan. Memohon penyertaan dan bimbingan Tuhan untuk tetap bertahan dalam memerjuangkan iman dan kehidupan umat.
Pada masa revolusi prancis semua aktivitas yang berhubungan dengan agama dan moralitas menjadi tindakan diskriminasi pada waktu itu. Revolusi Prancis tidak mengijinkan untuk melakukan berbagai aksi atau tindakan yang berhubungan dengan keagamaan. Setiap aktivitas dalam bidang kehidupan yang berhubungan dengan agama menjadi terancam.
Pater Gaspar Bertoni yang adalah seorang pendiri Kongregasi Stigmata juga mengalami nasib yang sama. Revolusi prancis ingin menutup seluruh Gereja, sekolah dan karya sosial lainnya yang berhubungan dengan keagamaan. Setelah mendirikan komunitas baru, pater Gaspar Bertoni memberi nama komunitas ini sebagai Apostolik misionaris. Artinya ingin membantu melayani keuskupan diberbagai tempat. Komitmen untuk menjadi apostolik misionaris ini memotivasi Gaspar untuk menjadi pelayan Tuhan pada saat-saat terancam revolusi prancis.
Baca juga: Tak Hanya Berdoa, Para Frater di Biara Agustinian Maumere Olah Kebun Tanam Hortikultura
Revolusi perancis yang sangat merajalela waktu itu tidak mengizinkan pihak-pihak manapun untuk berkarya selain hal keagamaan. Pater Gaspar Bertoni setelah mendirikan komunitas tersebut belum bisa meminta izin kepada pihak pemerintah untuk pengesahan komunitas tersebut. Oleh karena itu, ia tetap berkarya walaupun dalam keadaan terancam. Ketika ia mengajukan Kepada Tanah Suci (Kepausan) untuk persetujuan atau pengesahan komunitas tersebut, dari Tanah Suci (Kepausan) belum bisa menyetujui karena keadaan yang sangat mengecewakan. Namun perjuangan Pater Gaspar Bertoni tidak pernah padam. Ketika ia jatuh sakit, aktivitas apostolik misionarisnya berlanjut seputar tempat tidur. Dalam keadaan sakit dan menderita, ia masih berkeinginan untuk melayani umat Allah yang datang kepadanya. Setelah ia menghembuskan nafas terakhirnya, komunitas baru ini belum juga untuk disepakati atau disetujui oleh Tanah Suci (Kepausan).
Empat puluh tahun setelah kematian pater Gaspar Bertoni, salah satu rekan pastor, pater Maria Marani, mengajukan permohonan untuk pengesahan pembentukan komunitas baru ini, dengan nama komunitas Apostolik Misionaris. Pihak Tanah Suci (Kepausan) mempertanyakan tentang nama dari komunitas baru ini. Oleh karena itu, nama komunitas ini diganti dengan nama yang diambil dari salah satu nama kapela yang diberi kepercayaan oleh pater Gaspar Bertoni untuk memeliharanya. Kapela tersebut bernama Stigmata Kudus yang didedikasikan oleh santo Fransiskus. Tentu saja Stigmata Kudus ini adalah Stigmata Kudus Tuhan Kita Yesus Kritus. Oleh karena itu, nama komunitas ini bukan lagi Apostolik Misionaris melakinkan Stigmata Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus. Stigmata yang dihayati oleh para anggota Stigmata adalah Stigmata atau luka-luka Tuhan kita Yesus Kristus setelah mengalami ebangkitan pada hari ketiga. Kelima luka yang terlihat pada tubuh Tuhan yesus inilah menjadi penghayatan dan sekaligus kehidupan bagi Kongregasi Stigmata.
Motto Kongregasi
Pendiri Kongregasi Stigmata Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus, santo Gaspar Bertoni, dalam semangat untuk melayani Tuhan dan sesama terinspirasi oleh Injil Lukas 9 : 60 “Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana”. Sabda Allah ini menjadi hal mendasar karya kerasulan setiap anggota komunitas. Mewartakan Kerajaan Allah berarti seorang Stigmatin menjalankan karya Misi Allah pergi dan wartakanlah Kabar Sukacita. Santo Gaspar mengalami dan menjalani kehidupannya dengan penuh syukur terhadap segala Rahmat yang diterima dan daripadanya, ia mengumandangkan satu semboyan yang menjadi motivasi hidupnya dan motivasi untuk semua anggota komunitas Stigmata.
Pergi dan wartakanlah Kabar Sukacita berarti mewartakan Tuhan, yang melaluinya ia telah memuji dan memuliakan Tuhan. Segala sesuatu yang ia lakukan dalam kehidupannya, pelayaanannya dan segala amal baiknya adalah demi kemuliaan kebesaran Tuhan “Laus Deo Semper” atau “Laus Deo Soli”. Hal ini dapat dilihat dalam catatan harian dalam buku kecilnya setiap hari ketika ia berada diperpustakaan umum maupun perpustakaan yang bersifat privat. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar selama masih menjadi mahasiswa. Dengan belajar, Gaspar telah melakukan penghormatan kepada Allah yang ia selalu tulis dalam buku catatan hariannya dengan sebutan “Pujilah Tuhan selamanya” atau “Hanya Tuhan yang dipuji”. Mewartakan kabar baik dimana-mana dalam Injil Lukas mengarahkan para stigmatin untuk mewartakan tidak hanya di tempat tinggalnya sendiri tetapi menyebar sampai keseluruh dunia.
Baca juga: Gangguan Jiwa Diceraikan Suami,Disembuhkan Rohaniawan Biara Kamilus
Pandangan tersebut Gaspar memberikan motto bagi Kongregasi ini yakni, “Pergi dan wartakanlah kabar gembira di keuskupanmu dan seluruh dunia” (Euntes Docete in Diocese et Mundo). Motto kongregasi ini menjadi bagian terpenting dalam komunitas. Pergi dan wartakanlah kabar gembira menjadi tugas dan tanggngjawab semua anggota komunitas untuk mewartakan kabar gembira, mewartakan tentang Yesus. Gaspar mendirikan kongregasi ini melalui inspirasi dari karisma misionaris. Menjadi misionaris apostolik dibawah otoritas uskup keuskupan di daerah yang bersangkutan.