Opini Unika Santu Paulus Ruteng

Sekolah Tepat, Masa Depan Tetap

Berbagai masalah yang berhubungan dengan brain power dan kebutuhan akan mental might sangat erat dengan dunia pendidikan kita.

Editor: Hilarius Ninu
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA RUTENG
Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng 

Pemilihan Sekolah

Proses mempersiapkan masa depan anak melalui pendidikan, orang tua harus mencari, menemukan, dan menentukan sekolah yang tepat, juga sesuai kemauan anak. Sekolah hadir sebagai jembatan yang mengantar rutinitas kepada sebuah perubahan kehidupan. Melalui sekolah, anak-anak belajar banyak hal. Sekolah yang tepat bukan hanya memberi dampak pada perkembangan kognitif, tetapi juga perkembangan psikomotorik dan afektif anak. Lebih dari itu, pendidikan di sekolah berpengaruh pada pembentukan mindset dan terciptanya networking. Sekolah merupakan lingkungan yang membantu proses belajar anak agar kelak memiliki masa depan tetap. Anak-anak memproses dirinya menjadi pribadi berkarakter, berpengetahuan, dan memiliki keterampilan. 

Sekarang kita masuk pada masa-masa akhir semester genap dan siap memasuki tahun ajaran baru. Menjelang tahun ajaran baru, orang tua sibuk memilih sekolah buat anaknya. Setiap orangtua pasti memiliki keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik buat anaknya, termasuk pendidikan. memang pendidikan penting, tapi pemilihan sekolah tidak segampang membalikkan telapak tangan. Yah, gampang-gampang susah. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan momen krusial bagi orang tua dalam mempertimbangkan sekolah yang tepat untuk masa depan anak yang tetap. 

Indonesia memiliki begitu banyak sekolah. Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendiidkan Dasar dan Menengah Republik Indonesia merilis jumalah sekolah di seluruh Iondonesia, yakni sebanyak 441.243 (Negeri 173.499, Swasta: 267.744) dengan rincian TK: 99.237 (Negeri: 7.350, Swasta: 91.887); KB: 83.340 (Negeri: 252, Swasta: 83.088); TPA: 2.538 (Negeri: 28, Swasta: 2.510); SPS: 19.816 (Negeri: 56, Swasta: 19.760); PKBM: 10.568 (Negeri: 56, Swasta: 10.512); SKB: 507 (Negeri: 505, Swasta: 2); SLB: 2.387 (Negeri: 658, Swasta: 1.729); SD: 149.732 (Negeri: 129.487, Swasta: 20.245); SMP: 43.751 (Negeri: 24.171’ Swasta: 19.580); SMK: 14.465 (Negeri 3786, Swasta 10.679); dan SMA: 14.902 (Negeri: 7.150, Swasta: 7.752). 

Tentu saja setiap sekolah memiliki kualitas yang berbeda-beda. Dari segi biaya, terdapat sekolah yang gratis, tetapi ada sekolah yang memebani siswa dengan biaya hingga puluha juta. Satu pemahaman klasik tuurn temurun bahwa sekolah yang bagus cenderung mahal, karena untuk biaya pembangunan fisik, penyediaan fasilitas, pembiayaan tenaga pendidik dan kependidikan. Hal ini yang masih menjadi entry barrier bagi orang tua dalam memilih dan menentukan sekolah bagi anak-anaknya. Apalagi sekolah swasta, pos-pos biaya tersebut, sebagian atau sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua melalui komite. 

Sekolah yang Tepat

Sudah menjadi pemikiran universal bahwa sekolah terbaik adalah lembaga pendidikan yang memiliki tingkat akademik baik, terakreditasi sangat baik atau unggul, lulusan berhasil lolos beasiswa dan PTN, dan berbagai prestasi akademik lain. 

Justru bukan sekadar terbaik. Seharusnya yang menjadi indikator bagi orang tua adalah “sekolah yang tepat”: sekolah yang mampu mengubah peserta didik menjadi lebih baik. Sekolah yang mampu memberikan perbedaan signifikan antara kondisi awal peserta didik (input) dan kondisi setelah mengikuti proses dan menamatkan pendidikan (output).

Sekolah yang tepat memiliki beberapa aspek menonjol. Pertama, sekolah memiliki Pusat Bimbingan dan Konseling (PBK) yang aktif-responsif. Proses pendidikan bermutu seharusnya berorientasi pada siswa (subject centered), bukan berorientasi pada kurikulum (curriculum centered). Perhatian kepada perkembangan kepribadian, kedewasaan, pembentukan sikap, nilai, dan aspek-aspek kepribadian lain siswa harus menjadi titik perhatian pendidikan. 

Sekolah yang tepat mampu mengerti dan memahami peserta didik dengan seluruh dimensinya: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. PBK sebagai sarana yang sangat relevan untuk memberi perhatian kepada kedewasaan kepribadian siswa, pada usaha untuk membentuk mental might siswa. 

Realitas menunjukkan banyak sekolah masih mengabaikan peranan BK. Guru atau petugas BK masih ditempatkan sebagai “polisi sekolah”, petugas presensi, atau bahkan diberi pekerjaan untuk menghukum siswa. Tentu saja peranan ini tidak sesuai dengan bidangnya. Petugas BK adalah pembimbing yang memberikan layanan informasi, data-data perkembangan kepribadian siswa, membantu kemampuan siswa untuk mengenali dan menyadari segala potensi, kelemahan, dan keterbatasan yang ada pada dirinya. Kita tahu, aspek pemahaman dan kesadaran terhadap diri sendiri merupakan aspek yang sangat sentral dalam mencapai seorang pribadi yang dewasa. 

Kedua, sekolah yang tepat adalah sekolah yang memiliki kegiatan ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler variatif dan “lengkap”. Pertanyaannya, mengapa pilihan kelengkapan tidak pada kegiatan intra-kurikuler? Kegiatan intra-kurikuler adalah kegiatan yang sudah diatur dalam kurikulum. Berhadapan dengan kurikulum yang telah ditentukan oleh kementerian, kebanyakan pendidik dan peserta didik tidak berkutik. Karakter tuntutan intra-kurikuler adalah selesainya bahan yang disajikan dalam kurikulum. 

Dalam kegiatan ko-kurikuler dan ekstra kurikuler seorang guru bisa mengadakan variasi kegiatan dan pendekatan personal kepada setiap siswa. Dengan pendekatan personal tersebut, setiap pendidik mampu mengenal kekuatan dan kelemahan siswanya satu per satu. Kegiatan ekstra kurikuler yang lengkap dapat semakin memperkaya keterampilan dan aktivitas siswa, melatih kepekaan sosial siswa, dan melatih sisi lain dari dimensi-dimensi kepribadian siswa, selain dimensi kognitif. 

Ada konsep belajar bahwa pada dasarnya setiap anak emiliki potensi, sehingga sekolah yang tepat memfasilitasi tumbuh kembang potensi peserta didik secara optimal. Para pendidik dituntut berperan mengoptimalkan potensi peserta didik. Selain itu, adanya perubahan perilaku yang dibuktikan melalkui kompetensi apa yang dimiliki peserta didik setelah berproses pendidikan di sekolah. Para pendidik dituntut mengisi dan melengkapi kompetensi peserta didik. Tentu, keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan. 

Waluyo (2022) menganalogikan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah seperti kegiatan cocok tanam. Kalau bibitnya berasal dari varietas unggul, ditanam di tanah yang subur, kemudian ditangani petani profesional, kita bisa menebak, hasilnya akan optimal. Namun setiap tanaman memiliki karakteristik yang berbeda. Ada tanaman yang tumbuh subur ditempat kering, ada juga yang butuh banyak air. Ada tanaman yang cocok di dataran tinggi, ada yang justru butuh dataran rendah. Adanya perbedaan karakteristik meniscayakan perlakuan berbeda pula.

Halaman
123
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved