Warga NTT Korban KKB
Permintaan Tulus Hilarius, Ayah dari Korban KKB Asal NTT Kepada Pemerintah Pusat
Duka masih menyelimuti sanak keluarga dari korban aksi brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, asal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hilarius tidak menerangkan seperti apa jalan cerita mimpinya. Namun dia mengaku bahwa mimpi melihat ular itu, membuat hatinya sangat gelisah.
Kabar meninggalnya Yulius, membuat Hilarius merasa sangat terpukul. Bagi Hilarius, Yulius adalah sosok yang jujur, penyanyang dan taat.
Baca juga: Istri dan Anak Antar Jenazah Hubertus Korban KKB Papua ke Ngada
"Kalau dengan dua adik -adiknya, dari dulu dia tidak pernah cubit atau marah. Dia anak sulung, adiknya ada dua, kembar, perempuan," kata Hilarius menerangkan sosok Yulius.
Yulius sejak kecil, kata Hilarius, sangat dekat dengannya. Bahkan setelah tamat SMA, Yulius selalu ikut dengannya untuk bekerja, baik di kebun maupun di lokasi proyek. Itulah mengapa bagi Hilrius, putra sulungnya itu, dia anggap anak yang taat.
Yulius mengenyam pendidikan terakhir di bangku SMA yakni di SMA Katolik, Santo Thomas Aquinas, Mataloko, Ngada.
Yulius kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dan lebih memilih untuk merantau.
Pada tahun 2018, Yulius memutuskan untuk berangkat merantau ke Papua. Yulius diajak oleh sepupunya, Hubertus Goty (42) yang juga salah satu korban KKB, yang kala itu sudah lebih dulu berada di Papua.
Di sana dia kerja di toko, tapi karena dia bisa bawa mobil, dia juga sering antar -antar barang. Sejak berangkat dia belum pernah pulang, tapi komukasi dengan kami lancar," ujar Hilarius. (*)